0088 5101

90  Download (0)

Hele tekst

(1)
(2)

BIBLIOTHEEK KITLV

0088 5101

(3)
(4)
(5)

4. IQ.

PATJAR KOENING

RAHASIA PEMBOENOEHAN JANG GELAP

DIBOEKAKAN OLEH

DETEKTIF

RADEN PANDJI SOEBRATA

DIKARANG OLEH;

KETJINDOEAN.

A Hak

& lain

mengarang, maoepoen hak menterdjemahkan kedalam bahasa diperlindoengkan oleh oendang - oetldang Staatsblad 1912 No. 600, pasal 11 j-

D I T E R B I T K A N O L E

U I T G E V E R S B E D R I J F

PEROESAHAAN PENERBITAN „KABE"

(KOLFF-BUNING), DJOKJAK/

(6)
(7)

ONG HWIE LIANG

J *

ISINJA ; I. Ada orang tcrbocnoeh.

» IL Siapa jang memboenoeh?

III. Kentjana Dcwi memanggil detektif.

IV. Keterangan Nata.

* V. Patjar Koening.

VI. Soebrata mentjioem djcdjak.

VII. Malam jang penoeh kedahsjatan.

4

3

É

(8)
(9)

BAGIAN KESATOE

Ada orang terboc

ADA MALAM SELASA 13 Augus- H )tus 193. Nata sedang docdoek Jtr bekerdja dikamarnja memeriksa proef dari roman detektif jang tadi siang dikirim oleh drukkerij. Ia sama sekali tidak me- njangka, bahwa pada malam jang soenji dan sedjoek itoe, sedang langit penoeh dengan bintang, akan terdjadi soeatoe kedjadian jang ngeri dan dahsjat sekali dan mendo- rongkannja kedalam doenia kesoesahan besar.

Roman detektif itoe dikarang oleh toean Soepradja, seorang pengarang jang terkenal sekali. Soedah banjak boekoenja jang ter­

bit dan selaloe lekas habis, walaupoen oplaagnja berpoeloeh riboe, malah ada jang soedah doea tiga kali ditjitak. Raden Soe- pradja diam dengan isteri moedanja, jang remadja djelia dan manis parasnja, Karmirah namanja. Ia baroe tiga tahoen kawin dengan Karmirah, moela-moela bertemoe di Pasar Gambir. Doeloe ia pernah kawin poela dan beranak seorang perempoean. Ketika tidak lama sesoedah ia meninggalkan Soerabaja isterinja meninggal dan anaknja jang ketjil dimasoekkan kesoeatoe klooster dan dirawat disitoe. Doea poeloeh tahoen kemoedian ia kembali ke Djawa dan diam di Betawi. Ia ada membawa oeang setjoekoepnja oentoek hidoep senang. Doea tahoen jang laloc

(10)

anaknja itoe, sekarang soedah djadi gadis remadja jang seroepa benar dengan iboenja, poelang dari sekolah klooster dam diam bersama dengan Raden Soepradja dan isteri moedanja.

Roemah Soepradja itoe agak soenji letak- nja, sengadja dibeli oleh Soepradja, sebab ia hendak mengarang boekoe detektif. Oentoek membantoenja diambilnja seorang secretaris, jang soedah lima tahoen bekerdja dengan dia, jaitoe sedjak moela ia menetap di Beta­

wi. Nata adalah seorang moeda jang baik djoega potongannja dan sajang sekali serta hormat kepada Raden Soepradja, sebab karangan Raden Soepradja selaloe menarik perhatiannja. Banjak sekali akal jang di­

karangkan oleh Soepradja jang gandjil dan aneh. Dengan begitoe soedah terbit persa­

habatan jang karib antara Nata dan Soe- pradja, dan Soepradja sajang, poela kepada Nata.

Roepanja Nata dengan Kentjana Dewi, anak Soepradja, didalam doea tahoen gadis ini diroemah soedah mendjadi lebih dari sahabat sadja. Persahabatan mereka soedah agak mendalam sedikit, walaupoen Nata selaloe hormat kepada Kentjana Dewi, ka­

rena ia makloem, bahwa soesah sekali Dewi akan djadi djodohnja. Nata tahoe akan oentoeng dan nasibnja sendiri. Ia berdiri seorang diri diatas doenia ini, tiada karib dan saudaranja. Dan kedoedoekannja seba­

gai secretaris Soepradja tidak memberi

(11)

harapan besar, walaupoen begitoe ia tidak soeka melepaskan djabatan ini.

Nata sedang asjik bekerdja, sehingga tidak diketahoeinja, bahwa hari soedah poc- koel sebelas tengah malam. Biasanja poekocl sepoeloeh ia soedah boleh tidoer, tetapi se­

malam ini entah karena apa, ia ingin sekali hendak menjoedahkan kerdjanja.

Tiba-tiba terdengar olehnja boenji letoesan pistol. Nata terkedjoet. Ia menengok kesekelilingnija sebentar, laloe ditaroehkan- nja pipanja ketempat aboe rokok, penanja keatas proef, dan iapoen bangoen dengan tjepat.

Pemoeda ini tjakap roepanja, moekanja agak koeroes, matanja jang hitam sekarang berkilap-kilap karena perasaannja terharoe, sambil ia berpikir dengan tjepat. Sebentar sadja ia tertegoen berdiri, laloe ia pergi ke- pintoe, jang diboekakannja. Waktoe ia me- megangkan koentji pintoe perasaan kaget tadi soedah hilang, ia soedah sabar kembali, sebab datang pikiran kepadanja, bahwa boleh djadi boenji tembakan itoe berasal dari pesawat Raden Soepradja. Oentoek karangannja biasa djoega Raden Soepradja memboeat bermatjam-matjam perkakas, boeat mentjari soal-soal kedjahatan jamg soelit-soelit dan soesah boeat ditjari kete- rangannja. Tetapi Nata teroes djoega keloear, tjoema karena ia ingin hendak tahoe dengan pasti. Sesampai diloear dengan tiba-tiba perasaan takoet dan sjak wasangka

(12)

timboel kembali, sebab oedara diloear terasa aneh sekali, kesoenjian didalam roemah seperti mengamdoeng kabar djelek, seperti mengandoeng bahaja. Ataukah barangkali pikirannja sendiri jang menipoenja ?

Barang tentoe sadja sesampai kedepan^

pintoe kamar kantor Raden Soepradja la^

akan mengetok pintoe dan bertanja, apakah beres sadja semoeanja. Ia bermaksoed djoe- ga begitoe, tetapi dengan kaget ia melihat, bahwa pintoe tidak tertoetoep seperti biasa melainkan terboeka sedikit. Ini boekan kebiasaan Raden Soepradja ! Ia bisa marah besar, kalau pintoe terboeka sedikit sadja, Boeloe roma Nata laloe berdiri. Dengan tjepat ditolakkannja pintoe itoe sampai terboeka sama sekah.

Apa jang dilihatnja didalam kamar itoe soenggoeh-soenggoeh menerbangkan se- mangatnja. Sebentar ia tidak bergerak.

Matanja terbelalak besar, moeloetnja ternga­

nga, rengkoengannja berasa sempit. Ia sangat terkedjoet bertjampoer takoet.

Raden Soepradja terbaring telengkoep didepan medja toelisnja diatas tikar perma­

dani merah. Tangannja terkembang ke- doeanja. Dikepalanja diramboet poetihnja terbajang merah darah.

Nata djadi tidak tentoe perasaannja ketika mehhat kedjadian jang hebat dan ngeri itoe.

Raden Soetedjo, sahabat Njonja Soepra- dja jang sering datang keroemah, berloetoet

(13)

dekat mait Raden Soepradja. Orang ini besar, tetapi sekarang kelihatan ia agak menggetar toeboehnja. Dibelakangnja ber­

diri njonja Soepradja. Karmirah jang bagoes itoe. Sebelah tangannja memegangkan lehernja seperti perempoean sedang keta- koetan, sedang tangan jang lain memegang seboeah revolver.

Ini semoea terbajang kepada Nata dalam sekedjab mata sadja. Maka didalam pikiran^

nja timboel sangkaan, jang memaloe pelipis- nja dengan hebat seperti poekoelan paloe .

„Dia jang memboeboeh soeaminja. Dia jang memboenoeh !"

Mati terboenoeh ! ?

Tiba-tiba, dihanjoetkan oleh perasaannja, ia berlari ketempat Soepradja terbaring»

laloe berloetoet disebelah Raden Soetedjo.

Dengan tangan gemetar dirasainja nadi dan djantoeng Soepradja tiHak bergerak

lagi ! „ .

iMati terboenoeh ! Raden Soepradja jang disajangi, seperti Raden Soepradja sajang kepadanja, sekarang tidak ada lagi. Me­

ngapa orang kedji begitoe, sedang Soepra­

dja itoe selaloe baik hatinja, soeka menolong orang lain ? Hampir tidak bisa dipertjaja, jang perempoean sebagoes dan semanis int akan sampai hati memboenoeh soeaminja sendiri, jang memberi segala kesenangan doenia kepadanja. Nata seakan-akan maoe berteriak, mentjanangkan, bahwa dia, Kar­

mirah, jang memboenoeh soeaminja

(14)

Tetapi ia tidak dapat kesempatan oentoek melahirkan pikiran ini, karena diwaktoe itoe didalam mata Raden Soetedjo melintas tja- haja jang aneh. Dengan tjepat direboetnja revolver ditangan Karmirah, laloe diatjoeng- kannja keatas

Dan, sebeloem Nata dapat melihat apa jang diperboeat oleh Soetedjo, revolver itoe djatoeh kekepalanja dengan koeat sekali.

Sendjata itoe kena dibelakang kepalanja. Ia roeboeh tidak sedarkan diri lagi.

(15)

B A G I A N KEDOEA

Siapa jang mcmbocnoeh?

TATA, ajoh, tjobalah koempoel ke-

\^L\ koeatanmoe !" kata inspecteur Ma-

1

naf. „Engkau tidak apa-apa !"

Ini kedjadian doea poeloeh menit kemoe- dian. Nata memboekakan matanja dan memandang dengan heran kesekelilingnja.

Ia berbaring diatas divan didalam kamar kantor Raden Soepradja, sedang kepalanja berasa poesimg dan berpaloet poela dengan kain basah. Dibagian belakang terasa sakit dan perih.

Moelanja ia merasa dirinja sakit dan tidak senang, sehingga ia tidak perdoeli akan se­

gala sesoeatoe jang terdjadi disekelilingnja.

Ada terbajang sedikit roepa beberapa orang berpakaian dienst politie. Inspecteur Manar irenggontjanig-gontjang bahoenja, wal^upoen begitoe ia beloem dapat mendjawab.

Sekoenjoeng-koenjoeng terlihat olehnja toeboeh terbaring dilantai. Walaupoen toe- boeh itoe sekarang soedah ditoetoepi dengan kain poetih, penglihatan atasnja menge- djoetkan hati Nata, sehingga ia djadi sadar

kembali. .

Dengan tjepat ia bangoen. Maka teringat­

lah ia kembaU akan segala kedjadian tadi dengan terang. Ia loepa akan sakit kepa­

lanja karena pikirannja djalan tjepat sekali.

Ia memandang kepada Karmirah dan Soete- djo, jang berdiri berdoea dekat djendela.

(16)

„Saja dipoekoel mereka !" kata Nata dengan marahnja. Tetapi seketika itoe ia terdiam poela. Ia heran mendengar boenji soearanja sendiri. Betoelkah itoe soearanja?

Mengapa parau dan tidak seperti biasa ?

„Sabar, Nata !" kata inspecteur Manaf dengan bengis. „Kami tahoe, bahwa engkau kena poekoel. Dan jang lain-lain djoega kami soedah tahoe. Apa engkau sanggoep mendjawab beberapa pertanjaan ?"

Mata Nata merah dan perih. Dia kenal inspecteur Manaf, boekan sadja sebagai in­

specteur, malahan djoega sebagai sahabat baik dari Raden Soepradja. Ia pernah me­

nolong Soepradja didalam hal beberapa boekoenja. Banjaklah Soepradja memberi keterangan dan tjerita kepada Soepradja.

„}a", sahoet Nata, „saja sanggoep mendjawab".

,,Nah, tjobalah tjeritakan", tanja Manaf,

„apa sebab engkau lakoekan kerdja ini ?"

,,A-apa ?"

„Mengapa engkau boenoeh Raden Soepradja ?"

„Saja ?"

,,Ach, tidak goena engkau moengkir !"

,,Tetapi saja tidak memboenoehnja !"

Nata djadi heran dan bingoeng.

,jMereka itoe njonja Soepradja dan Raden Soetedjo ".

.,Tak goena dioelang tjerita bohong itoe", kata Manaf menjelang tjerita Nata. „Saja maoe tahoe, apa sebab engkau memboenoeh

(17)

dia. Tidak perloe saja ketahoei, dimana engkau ada diwaktoe pemboenoehan itoe menoeroet tjerita engkau. Njonja Soepradja soedah mentjeritakannja senjata-njatanja."

Sekoenjoeng-koenjoeng Nata insjaf akan apa jang telah terdjadi. Pengetahoean ini se­

perti batoe besar menekan kalboenja.

Sedang ia pingsan roepanja ia soedah di- toedoeh oleh njonja Soepradja dan Raden Soetedjo melakoekan pemboenioehan atas Raden Soepradja. Dia memandang kepada kedoea merekaini, jang kedoeanja melihat dengan marah kepadanja. Perempoean jang indah dan manis itoe, dengan kebaja merah- nja jang menambah mjatakan poetjat moeka- nja, berdiri seperti patoeng marmar,

,,Dan ?" tanja inspecteur Manaf.

„Saja tidak memboenoehnja", kata Nata mengoelang keterangannja. Kepalanja me- ngentak-ngentak poela didalam. „Saja tidak tahoe apa jamg mereka tjeritakan, tetapi apa jang telah terdjadi adalah begini : saja se­

dang bekerdja dikamar sadja, ketika saja dengar boenji tembakan. Saja berlari keloear dan karena boenji itoe seperti datang dan arah tempat Raden Soepradja bekerdja, laloe saja pergi kemari. Waktoe saja masoek, saja lihat Raden Soetedjo dengan njonja Soepra- dja ada disini dan toeboeh Raden Soe- pradja terbaring dilantai "

„Bohong !" kata Raden Soetedjo disini.

„Inspecteur, kalau toean biarkan orang itoe "

(18)

„Saja harap toean diam sebentar," sahoet Manaf dengan bengis." Saja jang memerik­

sa perkara, dan saja periksa tjara jang ter- kehendak dihati saja". Dan ia berpaling kem­

bali kepada Nata :„Engkau mesti mengerti, bahwa tidak ada goenanja memoengkiri ke­

terangan kedoea orang ini. Apa engkau ma­

sih maoe moengkir, sedang ada keterangan doea orang saksi jang menoedoeh engkau ?

,,Saja tidak bohong," kata Nata. ,,Apakah gerangan jang mereka tjeritakan kepada toean ?"

Inspecteur Manaf memandang kepada Karmirah.

„Apa njonja soeka mentjeritakan sekali la­

gi apa jang njonja lihat disini tadi ?" tanja- ,, nja dengan tenang. ,,Barangkali baik boeat Nata, kalau ia tahoe betoel bagaimana ke­

adaan sekarang."

Karmirah menganggoek.

,,Saja dengan Raden Soetedjo masih ber- tjakap-tjakap sebeloem ia poclang dari per- koendjoengan kepada Raden Soepradja, jang segera pergi kekantornja. Hari barangkali kira-kira poekoel sebelas katika kami men­

dengar boenji letoesan. Kami terkedjoet, la- loe kami segera pergi menoeroctkan arah boenji itoe, jang datangnja dari djoeroesan kamar soeami saja. Waktoe kami boekakan pintoe Nata kami lihat berloetoet dekat soc~

ami saja, jang "

(19)

Walaupoen Karmirah berbisik mengata­

kan ekor kalimat itoe, soearanja tidak ge­

metar.

Nata djadi heran. Karmirah berdiri disitoc dekat mait soeaminja dan ia berani membo­

hong besar, sedang ia tahoe, bahwa ia sen­

diri jang memboenoehnja. Sekarang orang lain ditoedoehnja melakoekan perboeatan ke- dji, jang ia lakoekan sendiri. Walaupoen de­

mikian, biarpoen moekanja poetjat, tetapi roepanja sabar sekali.

,,Ketika Nata melihat kami, ia melompat,"

oedjar Karmirah poela. ,,Ia 'hendak lari ke- pintoe, tetapi dapat dipegang oleh Raden Soetedjo. Maka terdjadilah perkelahian jang hebat sekah. Raden Soetedjo dapat meram­

pas revolver dari tangan Nata. Maka Nata laloe mengambil lampoe dari medja oentoek pemoekoel Raden Soetedjo.' Karmirah me­

mandang kesoeatoe lampoe jang terdampar dilantai. „Oentoek mempertahankan diri Ra­

den Soetedjo laloe memoekoel Nata dikepa- lanja. Itoelah semoeanja. Maka kami pang­

gillah pohtie."

Tjerita ini diberinja dengan tenang, tetapi amat tjerdik soesoenannja, seperti diafalnja diloear kepala sesoedah ditoenidjoekkan orang. Seperti ia bertjerita itoe rasakan tidaklah ada orang jang tidak hendak per- tjaja.

„Terima kasih, njonja Soepradja." kata inspecteur Manaf, jang laloe memandang ke­

(20)

pada Nata, seakan-akan hendak mengata­

kan, bahwa ia lebih baik mengakoe sadja.

Nata mendengarkan segala itoe dengan moeka poetjat dan amarah jang amat sangat, sehingga ia tidak sanggoep berkata-kata lagi.

Itoelah goenanja ia dipoekoel oleh Raden Soetedjo, soepaja mereka dapat memberi ke­

terangan jang dapat diterima orang, soepaja mereka dapat mengangsoerkan toedoehan ke­

pada orang lain, soepaja mereka dapat me­

mikirkan toedoehan mereka jang ganas itoe ! Nata mengerti maksoed mereka berdoea.

Dan selandjoetnja ia mengerti djoega, bah­

wa ia tidak dapat kesempatan oentoek mem­

benarkan keterangannja sendiri. Soesah boeat dia akan memberi keterangan jang da­

pat diterima dan dipertjajai orang.

„Inspecteur," kata Nata bernafsoe. ,,me­

reka mereka mengarang tjerita ini de­

ngan tjerdik sekali. Njata sekali mereka hen­

dak menimpakan toedoehan kepada saja."

„Ah, begitoe ? Dan bagaimana poela ke­

terangan engkau ?"

Nata laloe mentjeritakan halnja semoea- nja. Sekali ini inspecteur Manaf dengan ke­

ras melarang Raden Soetedjo menjelang- njelang bitjara, walaupoen ditjobanija bebe­

rapa kali dengan berboeat seperti ia sangat marah.

Setelah Nata habis bertjerita, inspecteur Manaf menggojang-gojang kepalanja.

,.Tidak ada goenanja," katanja, „ketjoeali kalau engkau dapat memberi boekti. Tetapi

(21)

disini ada doea saksi jang membatalkan ke­

terangan engkau seorang."

,,Ja, tentoe," djawab Nata, „inilah ketjer- dikan mereka. Doea lawan satoe ! Tetapi, inspecteur, tentoe mesti ada djalan disini oentoek melepaskan diri saja, dan memboek- tikan, bahwa mereka itoe bohong.

,.Inspecteur !" kata Raden Soetedjo," saja kira njonja Soepradja soedah terlaloe besar penanggoengannja, sehingga apa goena kita biarkan dia dihinakan dan difitnahkan oleh orang ini ?"

Inspecteur IManaf memandang dengan be­

ngis kepadanja, walaupoen tetap sabar se­

perti biasa.

,,Raden Soetedjo, katanja, ,,saja jang memeriksa perkara ini. Kalau saja perloe na­

sihat toean, tentoe akan saja minta sendiri 1"

Sesoedah itoe orang terdiam semoeanja.

Tidak ada jang berbitjara. Nata didalam ke­

tika soenji itoe memtjoba hendak menjoesoen pikirannja kembali, walaupoen soekar sekali hendak berpikir tenang sedang kepalanja mengentak-ngentak didalam verband basah

jang meliliti kepalanja.

Ditjobanja berpikir baik-baik. Jang terang adalah ini : Raden Soetedjo dengan tjerdik dapat memasang d jerat oentoek Nata sebab hendak melepaskan diri. Kalau ia tidak dapat mentjari akal oentoek menolak toedoe- han itoe, tentoe akan tertangkap dan dibawa masoek koeroengan. Maka soesahlah ia me­

lepaskan dirinja. Dan kedoea orang itoe

(22)

sama sadja keterangannja, atau dimana per- loe jang satoe membantoe jang laim.

„Mengapa tidak ada orang melihat saja ketika saja masoek kekamar ini ?" pikirnja.

Akan tetapi tidak ada harapan sesoeatoe orang akan mendjadi saksi oentoek keoen- toengannja. Boedjang semoea tidoer dibe- lakang, dan biarpoen ada boedjang jang datamg karena mendengar tembakan itoe, pasti djoega orang itoe tidak lagi akan me­

lihat kedjadian jang tertimpa atas dirinja itoe, orang itoe akan terlambat datangnja.

Dengan sekoenjoeng-koenjoeng Nata da­

pat harapan, matanja berkilap-kilap.

,,Inspecteur", katanja, „boleh saja berbi- tjara berdoea sadja dengan toean ?"

Inspecteur Manaf memandang sedjoeroes kepada Nata. Kemoedian ia menganggoek.

,,Agent", oedjarnja, ,,bawa dia kekamar disebelah. Djagai dia disana, sebentar saja datang".

Dalam pada itoe Kent j ana Dewi doedoek disoedoet kamar menangis amat sedih benar, tetapi tiada kedengaran. Ia sajang benar kepada ajahnja. Tiada sanak saudaranja jang lain jang diketahoeinja, sehingga ka­

rena kematian Raden Soepradja seperti ta- ban segala pergantoengannja. Segala pe­

meriksaan jang dilakoekan inspecteur Ma­

naf didengarkannja samoeanja, tetapi tiada jang masoek kedalam hatinja, melainkan ke­

terangan Nata, jang dapat dipertjajainja se-

(23)

pcnochiija. Tidak ada sedikit djoega terasa tanda-tanda didalam hatinja, jang mengata­

kan, bahwa Nata bersalah. Ia tidak pertja- ja, bahwa Nata jang selaloejhormat kepada- mja, dan didalam soedöet hatinja diketahoei- nja, bahwa Nata menaroeh perhatian jang, lebih dalam terhadap kepada dirinja dari pada kehormatan biasa. Tetapi ia mengerti, bahwa Nata tidak dapat melepaskan diri.

Keterangan iboe tirinja berdoea dengan Raden Soetedjo terlaloe koeat. Selama ia diroemah ini dengan hati sedih ia mehhat, ajahnja roepanja mempoenjai kesoe- sahani jang besar, jaitoe berhoeboeng dengan keamanan didalam roemah-tangga jang rasa terganggoe. Raden Soepradja sangat sa- jang akan isteri-moedanja ini, akan tetapi roepanja ia bertepoek sebelah tangan, sebab Karmirah sama sekali tidak memperhatikan­

nya. Perempoean ini seperti tjoema mem­

poenjai perhatian akan pakaian jang bagoes- bagoes sadja ; ia banjak berdjalan, Dan soedah setahoen lamanja datang seorang teman roemah, jang roepanja tidak mentjari persahabatan dengan Raden Soepradja, melainkan dengan iboe-tiri Kentjana Dewi.

Kepada gadis ini sendiri Karmirah roepanja tidak baik perasaannja, seakan-akan ia tjem- boeroe, tjoema tidak ditampakkannja benar.

Dalam beberapa boelan jang laloe ini keamanan didalam roemah soedah roesak.

Banjak kali terdjadi pertjektjokan jang berapi antara Raden Soepradja dengan Kar-

(24)

mirah. Didalam pertjektjokan ini Raden Soepradja selaloe moendoer achirnja, perta­

ma ia sajang kepada isterinja, kedoea, ka­

rena ia tidak soeka ada tjektjok didalam roemah.

Kentjana Dewi jakin, bahwa kedoea orang ini, Karmirah dan Soetedjo bersalah didalam pemboenoehan atas ajahnja, tetapi boekti tidak ada, sedang dakwaan atas Nata berat sekali. Walaupoen hatinja amat sedih, akalnja tidak hilang, ia berpikir keras tjara bagaimana hendak melepaskan Nata dan menoentoet balas kepada jang bersalah mem- boenoeh ajahnja. Maka tiba-tiba teringat olehnja, bahwa ajahnja dahoeloe ada ber­

sahabat dengan seorang detektif. Raden Pandji Soebrata. Memang Raden Pandji Soebrata terkenal sebagai detektif jang pin­

tar sekali. Apakah orang ini soeka meno- longnja ? Apakah orang ini soeka mentjari- kan si-pemboenoeh ajahnja ? Ada satoe lagi bahaja jang mengantjam. Roepanja Raden Soepradja menoeroet pengetahoean Dewi tidak memboeat testament, sehingga tentoe nanti akan timboel keriboetan tentang harta benda ajahnja. Achirnja diboelatkannja hatinja, laloe ia bangkit dari tempat doe- doeknja.

,,Nona hendak kemana ?" tanja inspecteur Manaf.

,,Saja ihendak kekamar saja sebentar !"

„Sebenarnja saja tidak keberatan nona meninggalkan kamar ini, sebab tidak

(25)

djoega akan banjak keterangan lagi diper­

oleh dari nona, karena nona tidak ada di- roemah ini waktoe ketjelakaan ini terdjadi.

Saja harap soepaja nona sabar sadja, kita akan berichtiar keras mentjari si pendjahat jang melakoekan ini. Selamat malam !

Kent) ana Dewi laloe keloear. Ia teroes kekamarnja. Dari sitoe ia tjari perhoeboe- ngan telefoon dengan Raden Pandji Soe- brata, jang kebetoelan ada diroemah. Seben­

tar ia akan datang. Tentoe sadja ia soeka menolong anak dari sahabatnja.

Dalam pada itoe Nata, sesoedah Ken- tjana Dewi keloear, bergerak arah kepintoe.

Ia tidak dapat berpikir. Apakah kata Kentjana Dewi kepadanja ? Rasa taban pergantoengannja, sebab tentoe Kentjana Dewi bentjilah akan dia, dia, orang jang tertoedoeh memboenoeh ajahnja ! Tetapi ketika Kentjana Dewi laloe didekatnja.

Dewi memandang kepadanja dan ma- soeklah ketenangan dan kesabaran kedalam kalboe Nata, sebab didalam pandangan Dewi sama sekali tidak ada terbajang kebentjian, malah pandangan itoe seperti mengandoeng kasihan dan memberi kesa­

baran. Sebentar seperti ia hidoep kembali, tetapi setelah Dewi Keloear, roepanja seperti orang bingoeng poela. Ia menjeret toeboeh- nja kearah kepintoe. Hampir sadja ia roeboeh, kalau tidak dipegangkan oleh agent polisi. Didekat pinitoe ia hampir roeboeh kembali, tetapi oentoenglah dapat

(26)

dikeraskannja hatinja, dan dengan djalan seperti orang maboek iapoen keloear. Sesam­

pai diloear ia tiba-tiba berhenti.

„Toenggoe sebentar, agent !"

„Ada apa ?" tanja agent itoe.

„Saja teringat Marilah kita kembali sebentar, sebab ada bitjara jang penting dengan inspecteur Manaf.

Maka merekapoen toeroet kembali keka- mar kantor Raden Soepradja.

Ketika sampai dibendoel pintoe Nata me­

manggil inspecteur Nata dengan pelahan...

„Inspecteur !"

Inspecteur jManaf jang sedang bertjakap dengan njonja Soepradja, memandang kepa­

da Nata dengan goesar.

„Ja, ada apa ?"

„Ada ada soeatoe hal jang mesti diberi keterangan dahoeloe. Ini Njonja Soepradja dan Raden Soetedjo mengatakan, bahwa mereka memboeroe masoek kekamar ini sesoedah mendengar boenji letoesan, dan bahwa saja mereka dapati didekat toeboeh Raden Soepradja. Bagaimanakah mereka dapati pintoe waktoc itoe ? Tertoetoep atau terboeka ?"

Inspecteur Manaf memandang kepada R. Soetedjo, orang ini menggerakkan alisnja.

,.Tertoetoep !" sahoetnja dengan pendek.

,,Mengapa ?"

„Kalau begitoe", kata Nata, ,.mestilah koentji pintoe itoe dapat memberi keterangan jang sebenarnja".

(27)

„Apa sangkoetan koentji pintoe itoe de­

ngan perkara ini ?" tanja Raden Soetedjo dengan marahnja.

Nata menoedjoekan djawabannja kepada inspecteur Manaf, jang pergi mengamat- amati koentji pintoe itoe.

„Begini, inspecteur !" kata Nata. „Kalau betoel n jon ja Soepradja dengan Raden Soe­

tedjo datang kedalam kamar ini sesoedah saja, dan mereka mesti memboekakan pintoe dahoeloe, maka mestilah bekas djari pada genggaman koentji jang poetih itoe adanja diatas bekas djari saja, boekan ? Tetapi kalau saja datang kemoedian dari mereka, jaitoe kalau saja memboekakan pintoe itoe sesoedah pemboenoehan itoe terdjadi, tentoe bekas djari saja mesti ada diatas bekas djari mereka. Apa tidak betoel begitoe ?"

Inspecteur Manaf memandang dari geng­

gaman koentji kepada Nata dan dari Nata kepada njonja Soepradja dan Raden Soete­

djo. Kedoeanja roepanja terkedjoet mende­

ngar perkataan Nata itoe, mata mereka be­

sar memandang kepada inspecteur Manaf.

,,Ja, itoe moengkin betoel djoega. Boleh diperiksa !" kata Manaf. Kemoedian ia ber­

kata poela : „Baik, Nata ! Nanti saja soeroeh periksa koentji itoe ! Pergilah dahoeloe keloear !"

Ketika keloear Nata berkata pada dirinja sendiri : ,,Saja mesti mentjari akal oentoek melepaskan diri dari perangkap ini !"

(28)

B A G I A N K E T I G A

Kentjana Dewi mengambil detectif EDANG toekang portret melakoekan pekerdjaan menetapkan keadaan di- dalam kamar dan letak mait itoe, dan sedang orang memeriksa genggaman koentji oentoek memeriksa bekas djari disitoe, da­

tanglah detektif Raden Pandji Soebrata.

„Selamat malam, inspecteur Manaf ! Saja lihat toean sedang asjik bekerdja. Saja da­

tang kemari diminta oleh nona Soepradja.

Bagaimana kedjadian ini ?"

Inspecteur Manaf agak koerang soeka ter- gangyoe didalam perkerdjaannja. Béioel ia kenal Soebrata dan ia poedji ketjakapannja, sebab soedah banjak soal jang gelap bagi polisi dapat diteranginja, sampai pendjaRat- nja tertangkap. Tetapi didalam hal ini keda­

tangan Soebrata rasanja tidak perloe lagi.

Perkara ini terang. Tjoema jang beloem diketahoei, apa alasan Nata memboenoeh Soepradja.

Raden Pandji Soebrata adalah seorang jang soedah separoh baja oemoernja. Te­

gap badannja. Pandangannja tadjam. Ia terkenal sebagai orang jang tadjam sekali pikirannja dan segera dapat melihat djalan keadaan jang betoel, karena ia tjermat be­

kerdja. Segala soal jang berketjil-ketjil tidak diabaikannja, dan memang atjap kali dari jang ketji-ketjil itoe diperoleh penoendjoe-

(29)

kan kedjalan jang betoel oentoek mentjari si pendja'hat.

Inspecteur Manaf tidak menjemboenjikan kegoesarannja.

„Ah, perkara ini terang sekali, sehingga rasanja, kalau tidak saja menghormati ke- maoean nona Soepradja, seakan-akan tidak perloe lagi toean kemari. Perkara ini terla- loe ketjil oentoek perhatian toean".

,Ja, saja datang kemari djoega atas per­

mintaan, djadi tentoelah saja mesti melakoe- kan pemeriksaan djoega, boekan ? Soekakah toean memberi keterangan sedikit, apa jang telah terdjadi disini ?"

„Tadi liwat poekoel 11", oedjar Manaf,

„kami dapat telefoon dari sini, meminta datang polisi, sebab disini ada terdjadi boenoehan, sedang pemboenoehnja soedah tertangkap, ia sedang pingsan. Kami dapati didalam kamar ini njonja Soepradja dengan Raden Soetedjo. Mait toean Soepradja tergelempai dilantai. Nata, secretaris toean Soepradja, terbaring didekat mait itoe, ia sedang pingsan. Njonja Soepradja mentjeritakan, bahwa waktoe ia sedang ber- bitjara dikamar boekoe dengan Raden Soe­

tedjo diwaktoe toean ini hendak poelang, terdengar boenji letoesan dari kamar Raden Soepradja. Laloe mereka berdoea berlari kekamar itoe. Didapatinja Nata disini me­

megang revolver, sedang Raden Soepradja terbaring dilantai dengan loeka dikepalanja.

Nata hendak melompat lari, tetapi ditangkap

(30)

oleh Raden Soetedjo, sehingga timboel per­

kelahian. Nata dapat mengambil lampoe dari medja toelis 'hendak memoekoel Raden Soetedjo, sebab revolvernja soedah direboet oleh Raden Soetedjo, tetapi toean ini dapat memoekoel kepala Nata dengan revolver itoe,sehingga Nata djatoeh pingsan. Laloe njonja Soepradja menelefoon kepada polisi.

Boedjang ada dibelakang semoeanja. Mere­

ka datang waktoe pemboenoehan itoe soedah terdjadi. Nona Soepradja poelang dari kemidi sesoedah saja ada disini ! Menoeroet pemeriksaan toekang tanda djari, adalah tanda djari jang ada pada genggaman pintoc itoe doea boeah, sebelah kebawah tanda djari Raden Soetedjo, sebelah keatas tanda djari Nata. Toema jang beloem diketahoei, apa sebabnja Nata memboenoeh Raden Soepradja, sedang ia soedah 5 tahoen bekerdja disini dan selama ini tidak mem- poenjai alasan oentoek bersakit 'hati pada Raden Soepradja !"

„Bagaimana pemeriksaan dokter ?" tanja Soebrata.

,,Menoeroet keterangan dokter Raden Soepradja mati kira-kira poekoel 11 tadi. Ia mati karena loeka dikepalanja oleh pelor".

,,Apa saja boleh melakoekan pemerik­

saan ?"

,,Sesoeka toean !" sahoet inspecteur Manaf.

„Djadi lampoe ini dipegang oleh Nata hendak memoekoel Raden Soetedjo ? Soeka

(31)

toean menjoeroeh pemeriksa tanda-tanda dj ari padan ja ?"

Inspecteur laloe menjoeroeh periksa lam- poe itoe. Soebrata meneroeskam pemerik- saannja.

„Semoeanja netjes disini ! Dj adi boekan pemboenoehan biasa oentoek merampas ! Apakah soedah diperiksa soerat-soerai toean Soepradja ?"

„Soedah !" djawab inspecteur Manaf,

„tetapi tiada jang penting. Jang diatas medjanja itoe semoeanja karangan oentoek boekoe roman detektif".

Soebrata laloe menghampiri medja itoe, ia doedoek kekoersi Raden Soepradja, laloe dimoelai memeriksa soerat-soerat jang ada diatas medja. Sepintas laloe tidak ada apa- apa pada soerat itoe, akan tetapi ketika ia hendak berdiri terbatja olehnja bagian penghabisan daripada halaman jang sebelah

keatas, jaitoe roepanja jang dikerdjakan oleh Raden Soepradja sampai kepada waktoe ke- tjelakaan atas dirinja itoe terdjadi. Roepa­

nja tjerita jang dikarangnja itoe tentang soeatoe complot besar. Kalimat jang peng­

habisan tidak habis, terhenti ditengah, tetapi pada bagian jang tertoelis itoe Soebrata membatja soeatoe hal jang menarik perha- tiannja, laloe diperhatikannja.

„Orang tangkapan itoe achirnja mentjeritakan kepada detektif, bahwa koempoelan rahasia jang melakoekan

(32)

kedjahatan ini selaloe menjelimoeti pemboenoehan, sehingga seperti orang kena tembak dengan revolver orang itoe sendiri, tetapi pada sebenarnja orang itoe diboenoeh lebih dahoeloe dengan sematjam obat jang, tidak me­

ninggalkan bekas, dan kemoedian baroe orang itoe ditembak dengan revolver orang itoe sendiri, dan kalau orang maoe memeriksa toeboeh orang itoe, tentoe akan bertemoe tanda per- koempoelan „Patjar Koening" ini, roepanja

Soebrata djadi terpikir. Mengapa ka­

rangan Raden Soepradja ini menarik hat'- nja ? Pada hal ini tjoema karangan pikiran Raden Soepradja belaka oentoek boekoe roman detektif jang sedang dikerdjakannja.

Maka medja itoepoen diperhatikannja. Ia doedoek seperti Raden Soepradja kira-kira mesti doeHoek diwaktoe sedang bekerdja.

Maka iapoen memandang kesekehlingnja.

Tampaklah olehnja, bahwa djendela terboe- ka. Djendela ini berbetoelan benar letaknja dengan seboeah djendela dari roemah di- sebelah. Djendela sebelah itoe sekarang tertoetoep, tetapi didalamnja api hidoep.

,,Njonja Soepradja !" tamjanja, sambil menengok kepada Karmirah. ,,Waktoe n jon ja masoek kemari, apakah djendela ini n jon ja lihat tertoetoep ataai terboeka ?"

(33)

,,Biasanja soeami saja memboekakan djen- delà, kalau ia sedang bekerdja.. Ja tadi djoega djendela itoe terboeka."

Soebrata laloe pergi dari medja itoe mc- noedjoe kedjendela jang diperhatikannja dengan teliti, tetapi soeatoepoen tidak ada tanda kelihatan.

,,Toean Manaf ! Siapa jang diam disebe- lah ini ?" tanjanja kepada inspecteur Manaf.

Karena inspecteur tidak tahoe, dipanggil agent polisi jang djaga dibagian ini. Orang ini menerangkan, bahwa disitoe diam se­

orang toean jang loempoeh kedoea kakinja, seorang diri sadja. Ia tidak pernah keloear.

Didalam roemah ia bergerak diatas kereta jang dapat didjalankannja dengan tangan- nja. Biasanja ia tidoer djoega diatas kereta itoe. Boedjangnja seorang toea. Ia djarang sekali menerima tetamoe.

Sesoedah mendengar keterangan ini Soe­

brata pergi memeriksa mait Raden Soepra- dja. Menoeroet keterangan dokter Soepradja mati kena tembak dikepalanja. Bekas-bekas jang lain tidak ada. Roepanja Soebrata soe- dah mempoenjai sesoeatoe theorie tentang pemboenoehan ini karena ia teroes sadja memeriksa bagian kepala Soepradja jang ter­

boeka disebelah kanan. Sesoedah itoe diboe- kakannja lengan badjoe sebelah kanan poê­

la. Maka disitoe dipangkal' lengan sebelah keloear kelihatan tanda seperti jang biasa diperboeat orang pelaoet ditangannja, oeki- ran beroepa boenga patjar. Berlainan dari

(34)

biasa warnanja boekan belaoe, melainkan koening. „Patjar Koening !" Sedjoeroes Soe- brata terpikir. Matanja berapi-api. Tïdak lama kemoedian ia doedoek kembali dikerosi

dimedja toelis, diambilnja setjarik kertas, la- loe ia menoelis sebentar, sambil menengok djoega kedjendela dan kepangkal lengannja.

„Toean Manaf !" katanja poela. ,,Ada so- 'al jang aneh didalam perkara ini !"

,,Tidak ada jang aneh !"

„Toean pikir begitoe ?"

,,Ja, tidak lama sesoedah tembakan itoe terdjadi, Nata didapati disini dengan revol­

ver ditangannja. Bekas-^bekas orang lain masoek kemari tidak ada tanda apa-apa.

Menoeroet keterangan dokter Raden Soe- pradja mati kena tembak."

,,Ja, itoe terang ! Tetapi mengapa ketera­

ngan Nata dan njonja Soepradja berten­

tangan benar ? Nata mengatakan ia, menda­

pati njonja Soepradja dengan Raden Soete- djo disini. Dan njonja Soepradja mengata­

kan, ia mendapati Nata disini. Apakah ala­

san Nata menoedoeh njonja Soepradja ? Apa sebab maka Nata memboenoeh Raden Soe­

pradja ?"

„Ah," djawab Manaf, „Nata tentoe achir- nja miengakoe djoega nanti, kalau soedah diketahoeinja, bahwa sama sekali tidak ada djalan oèntoek melepaskan dirinja."

(35)

„Baiklah ! Kalau boleh, saja sekarang hen­

dak bertemoe dengan Nata."

„O, kita boleh sama-sama pergi kepadanja.

Saja djoega hendak kekamar sebelah, sebab tadi ia mengatakan hendak memberi ketera­

ngan jang penting."

(36)

BAGIAN KEEMPAT

Keterangan Nata

TA T A merasa sangat lama sekali me- nantikan inspecteur Manaf, sedang J. ia didjagai okh seorang agent polisi jang galak. Djaroem djam seperti merang­

kak. Ditjobanja menjabarkan hatinja dan berpikir. Beriboe-riboe matjam pikiran jang berkatjau-balau didalam kepalanja. Dia me­

ngerti, bahwa ia berdjoeang mempertahan­

kan njawanja, mempertahankan kehidoepan- nja, membela, tjintanja akan Kentjana Dewi.

Mengenang gadis ini hatinja tambah berde­

bar-debar. Apakah kata Kentjana Dewi ? Dia, Nata, memboenoeh ajah gadis jang di- kasihinja ! Akan tetapi apa poela pan­

dangan Kentjana Dewi tadi kepadanja ? Mengapa tidak ada sedikit djoega terbajang kemarahan dan kebentjian pada wadjah moeka dan kilat mata Dewi tadi, waktoe melihat kepadanja sambil laloe 1 Mengerti­

kah Kentjana Dewi, bahwa boekan ia jang mendjadi pemboenoeh ajahnja ?

Pada soeatoe waktoe ia tidak tahan lagi, laloe bertanja :

,,Mengapa begitoe lama inspecteur Manaf datang ?"

„Ah, boeat sesoeatoe ada waktoenja !" sa- hoet agent jang galak itoe. ,,Inspecteur Ma­

naf boekan boeat toean sendiri disini. Lagi poela toean toh saja kira tidak ada djandji

jang perloe diloiear ?"

(37)

„Oh, tidak begitoe ! Saja tjoema mesti bi- tjara doeloe dengan dia, sebeloem dia ^

„Toean terpaksa mesti menanti dahoeloe,"

oedjar agent itoe poela. ,,Dia sekarang se­

dang berbitjara dengan dokter, dengan toe- kang periksa tanda djari dan lain-lain. Ten- toe dia beloem akan datang, sebeloem itoe semoea selesai."

Ketika itoe inspecteur Manaf masoek. Roe- panja galak sekali, sehingga Nata mengerti, bahwa ada hal jang penting soedah terdjadi.

Dan inspecteur Manaf tidak poela sendiri- nja, melainkan ia diiringkan oleh seorang lain. Waktoe Nata memandang kepada orang itoe, besar hatinja, sebab ia kenal akan Raden Pandji Soebrata, seorang detektif jang diketahoeinja sangat terkenal karena tjakapnja. Tetapi Manaf tidak memberinja waktoe lama oentoek berpikir.

„Nah, Nata !" oedjarnja. „Ada satoe hal jang boleh djadi baik sedikit boeat engkau, tetapi dj angan terboeroe berbesar hati, sebab sama sekali beloem ada harapan engkau akan lepas. Doea saksi lawan engkau se orang Tanda djari engkau betoel letak- nja dikoentji pintoe itoe diatas tanda djari jang lain-lain djadi engkau kemoedian masoek pintoe itoe dari orang jang mening­

galkan tanda djarinja sebeloem engkau.

Tanda djari siapa itoe ? Tidak njata lagi, sebab soedah roesak karena djari engkau.

Artinja boleh djadi engkau datang kemoe­

dian daripada njonja Soepradja dan Raden

(38)

Soetcdjo, tetapi ini sadja tidak ada artinja kaiau tidak ada boekti dan keterangan jang lain ! Lagi poela tanda djarj dilampoe eng­

kau jang poenja !"

Sedjoeroes orang terdiam semoeanja.

„Karena tidak ada orang lain didalam kamar ini", kata Manaf selandjoetnja", saja hendak berkata teroes terang dengan eng­

kau. Kedoedoekanmoe berbahaja sekali, biarpoen perkara tanda djari itoe agak me- ngocntoengkan sedikit. Tjoba bawa kede- pan pengadilan, sedang engkau tidak mempoenjai keterangan lain, dan njonja Soepradja serta Raden Soetedjo nanti memberi keterangan didalarn soempah ! Lagi poela pembela mereka tentoe orang jang tjerdik. Ia akan mengatakan, bahwa karena bingoeng dan doeka, dan ini tentoe dapat diterima orang semoea, mereka tidak ingat betoel lagi, ataukah pintoe itoe terboeka atau tertoetoep, waktoe mereka boeroe-boeroe di­

dalam keheranan dan ketjemasan menjerboe masoek bilik itoe. Dan boleh djadi pintoe itoe tidak terboeka sama sekali, tjoema sedi­

kit sadja, sehingga mereka dengan menolak- kannja sedikit sadja, dan tidak memegang koentji, soedah dapat memboekakan pintoe.

}a, sesoenggoehnja berbahaja sekali kedoe- doekan engkau !"

,,Saja insjaf akan semoea itoe inspecteur ! Tetapi toch mesti ada satoe djalan oen- toek melepaskan diri saja '.

(39)

„Ja..., itoe jang soekar mentjarinja, kaiau- kalau sama sekali tidak ada !

„Kalau saja boleh bertanja", oedjar Soe- brata disini, „Soedah berapa lama toean bekerdja pada Raden Soepradja ?

„Kira-kira enam tahoen !" sahoet inspec­

teur Manaf.

„Lima tahoen !" djawab Nata.

„Saja tahoe", kata Manaf poela, „bahwa toean Soepradja sangat memoedji pekerdja- an dan tabi'at Nata. Ia sajang kepada se- cretarisnja, dan menoeroet pengetahoean saja engkau djoega sajang poela kepadanja, boekan begitoe, Nata ?"

,,Djarang saja bertemoe dengan manoesia sebaik dia !" sahoet Nata teroes terang.

„H'm ja, semoea orang berkata begi­

toe tentang dia. Itoelah sebab saja tidak mengerti, apa alasan bagi engkau hendak memboenoeh dia ".

,,Saja tidak memboenoeh dia !

,,Engkau mengerti, Nata, bahwa saja maoe pertjaja akan keterangan engkau, te­

tapi tidak ada boekti dan keterangannja ! Nata berdiam diri. Ia merasa betapa berat toedoehan jang menimpa dirinja.

,,Saja soedah mendengar apa keterangan toean didalam kedjadian ini , kata Soebra- ta ,,Kalau keterangan itoe dapat dipertjaja, apa alasan njonja Soepradja memboenoeh soeaminja ?"

„Tentang itoe boleh djadi saja dapat memberi keterangan", sahoet Nata.

(40)

„Betoel-betoel ?" tanja inspecteur Manaf.

,Ja, oedjar Nata poela. „Sebetoelnja, ka­

lau tidak dalam keadaan seroepa begini, saja tidak soeka bertjerita tentang ini, dan saja tidak soeka mentjampoeri oeroesan orang.

Tetapi sekarang saja mesti berdjoeang membela njawa saja !"

,,Teroes !"

Nata tertegoen sebentar. Kemoedian di- tjobanja melangkahkan langkah, jang di- sangkanja dapat melepaskan dirinja. Se- koerang-koerangnija ia mesti dapat waktoe oentoek mentjari djalan. Tentoe perkara ini akan diperiksa orang dahoeloe dengan tjermat. Dan kalau ia dapat meléngah piki­

ran orang dan membélokkannja boeat se­

mentara kepada djoeroesan lain, bisalah ia berpikir dengan sabar. Ia jakim, bahwa mesti ada djalan oentoek lepas. Soedah se­

lama itoe ia bekerdja pada seorang penga­

rang tjerita detektif, masakan tiada sedikit djoega ketjerdikan pengarang itoe akan toeroen mendjadi hak miliknja poela ? Laloe dilepasnjalah panahnja, jang kiranja seperti berisi bom jang meletoes hebat djadinja.

,,Njonja Soepradja kasih akan Raden Soetedjo !"

,,Apa ?" teriak inspecteur Manaf, seakan- akan ia mendengar letoesan bom disebelah- nja. Ia berdiri dan berdjalan kedekat Nata.

,,Bagaimana engkau tahoe itoe ?" tanjanja poela.

(41)

_ Toean tahoe saja diam didalam roemah ini soedah lima tahoen lamanja. jMasakaK saja bisa boeta toeli sama sekali !" sahoet Nata. ,,Barangkali toean beloem loepa, bahwa toean Soepradja baroe tiga tahoen jang laloe kawin dengan njonja moeda ini, jang 30 tahoen lebih moeda dari dia. la sajang sekali kepadanja, boleh dikatakan isterinja ini tidak dipandamgnja sebagai is- teri lagi, melainkan soedah hampir seperti anak. Akan tetapi sebaliknja perasaan ka­

sih sajang kepada soieaminja tidak ada pada njonja Soepradja. Boleh djadi ia kawin tjoema karena oeang sadja, Tentoe achir- achirnja toean Soepradja mesti merasa ba­

gaimana pandangan isterinja kepadanja, apa lagi sesoedah toean Soetedjo banjak kali datang, kemari

,,Ah begitoe ! Teroes ?

,,Toean Soetedjo baroe delapan boelan ini tetap keloear masoek roemah ini, sebagai sahabat Raden Soepradja. Dimana mereka berkenalan saja tidak tahoe. Pada soeatoe hari ia soedah ada sadja disini. Roepanja sedjak semoela toean Soepradja soedah koe­

rang soeka djoega akan dia. Tetapi Raden Soetedjo seperti orang tebal telinga dan moeka, perasaan toean Soepradja itoe tidak diatjoehkannja atau tidak diketahoeinja sa­

ma sekali. Saja kira ia seperti semoet men- tjioemi goela. Saja soedah sedjak semoela merasa, bahwa ia datang tjoema karena dan oentoek njonja Soepradja. Maka didalam

(42)

delapan boelan itoe ia soedah dapat memikat hati njonja moeda ini, jang tentoe nanti akan hidoep senang, dan memang bila ia diwaktoe toean Soepradja hidoep sekahpoen ia lepas misalnja, ia akan senang djoega, sebab oen- toeknja sendiri soedah ada harta dioen- toekkan sebagian harta toean Soepradja".

,,Itoe semoea boleh djadi, tetapi tidak tjoekoep oentoek djadi alasan akan mem- boenoeh toean Soepradja. Tentoe mesti ada alasan jang lebih dahsjat jang mendjadikan njonja Soepradja memboenoeh soeaminja sendiri, seperti engkau sangkakan itoe 1"

,,Memang ada alasan ! Atau boleh djadi pemboenoehan itoe terdjadi karena djalan keadaan".

,,Karena djalan keadaan bagaimana ?" ta- nja inspecteur Manaf.

,,Djadi toean pikir njonja Soepradja memboenoeh soeaminja, soepaja ia dapat lekas lepas ?" tanja Soebrata poela.

,,Itoe tentoe tidak dapat saja boektikan", kata Nata teroes terang, „tetapi saja doega boleh djadi njonja Soepradja bersama de­

ngan Raden Soetedjo datang kekamar tem­

pat Raden Soepradja bekerdja oentoek mem­

beri sematjam ja, sematjam ultimatum jang penghabisan ".

,,Ultimatum jang penghabisan ?" tanja Soebrata. ,,Djadi tentoe lebih dahoeloe soe­

dah ada toentoetan begitoe ?"

,,]a", sahoet Nata, „jang penghabisan.

Dan sebeloem itoe memang soedah kedja-

(43)

dian apa-apa. Seboelan jang laloe njonja Soepradja minta tjerai kepada soeaminja...

soepaja ia dapat kawin dengan Raden Soe- tedjo".

Manaf dan Soebrata heran.

,,Insjaf betoel engkau tentang apa jang engkau katakan itoe ?" tanja Manaf.

,,Pasti !" oedjar Nata dengan sabar.

„Saja tahoe karena toean Soepradja sendiri jang mentjeritakan kepada saja. Sesoedah mereka berbitjara itoe ada seminggoe lama- nja toean Soepradja tidak dapat bekerdja.

Saja minta kepadamja soepaja dipanggil dokter oentoek memeriksa, karena saja be- loem tahoe apa-apa. Tetapi toean Soe­

pradja tertawa, tetapi seperti orang bersedih hati. Maka ditjeritakannjalah, bahwa tiada dokter jang dapat menolongnja. Laloe dite-

rangkannja pertjakapannja dengan njonja- nja. Tentoe sadja ditolaknja permintaan itoe. Ia merasa tidak sanggoep mengan- doeng. ingatan, bahwa ia diketepikan oleh isterinja tjoema karena iseng-iseng jang menggoda isterinja",

,,Mengapa dibiarkannja djoega Raden Soetedjo datang kemari ?" Biasanja dida- lam hal seroepa itoe si soeami tentoe akan mendepak perajoe isterinja keloear ?

,,Toean mesti mengerti pendirian toean Soepradja", sahoet Nata. ,,Ia memandang isterinja kena rajoe. Kalau dikerasinja, tentoe benang jang rapoeh itoe akan poetoes.

Pada hal ia masih ada harapan, bahwa iste-

(44)

rinja pada soeatoe kali akan insjaf. Lagi poêla ia tidak memperlihatkan segala itoe karena anaknja jang perempoean ada di- roemah ini. Ia maloe. Djadi segala kea­

daan dibiarkannja seperti biasa, walaupoen ia sangat hebat menderitakan kepiloean hati.

Ia mentjari djalan oentoek melepaskan segala, malapetaka dengan tidak oesah di- ketahoei orang lain. Kalau sekiranja isterinja nanti terbit insjaf, djadi semoeanja tertoe- toep antara mereka berdoea sadja".

,,Djadi engkau kira itoelah sebabnja njonja Soepradja memboenoeh soeaminja ? tanja

Manaf.

,,Boleh djadi. Seperti saja katakan tadi, saja tidak mempoenjai boekti, tetapi saja tidak heran, kalau tadi njonja Soepradja bersama Raden Soetedjo datang kepada Ra­

den Soepradja oentoek memberi ultimatum jang penghabisan. Dan disitoe terbit per­

tengkaran, sehingga toean Soepradja tidak tahan hati. dan bergerak hendak mengoesir toean Soetedjo keloear dengan kekerasan.

Boleh djadi akan dipoekoelnja dengan lam- poe jang sekarang ada dilantai. Revolver selaloe ada dilatji medjanja. Ini diketahoei oleh njonja Soepradja, dan didalam ke- riboetan itoe boleh djadi njonja Soepradja...".

,.}a, itoe tjoema theorie " kata Soe- brata.

..Tentoe sadja itoe theorie", sahoet Nata , saja tjoema menoeroetkan djalan kemoeng- kinan menoeroet keadaan jang saja ketahoei.

(45)

Tetapi dalam beberapa saat tadi saja ada berpikir, barangkali moengkin mereka itoe dipaksa mengakoe. Boleh djadi dapat saja djalan oentoek memaksa mereka".

„Bagaimana ?"

„Pikiran ini bockan pikiran saja sendiri»

melainkan pikiran toean Soepradja, jang di- bentangkannja didalam boekoenja jang baroe. Seorang boeta toeli melihat orang melakoekan kedjahatan, tetapi ia tidak dapat mentjeritakan itoe kepada polisi. Boekan itoe jang saja maksoedkam disini, melainkan begini. Disebelah ini ada diam seorang lemah, jang hidoepnja dikerosi beroda sadja.

Tempat kamar tidoer orang itoe bertenta­

ngan benar dengan kamar tempat toean Soepradja biasa bekerdja : kalau orang itoe tidoer berbaring tetapi tidak terkelap dîtem- pat tidoer, tentoe ia mesti mendengar tem­

bakan itoe

,,Sesoenggoehnija 1" kata Soebrata.

,.Tetapi boekan itoe jang saja maksoed- kan. Kita berboeat seakan-akan orang lemah itoe menerangkan, bahwa ia melihat segala kedjadian dikamar ini diwaktoe pem- boenoehan itoe terdjadi Boleh djadi njonja Soepradja terpaksa mengakoe, kare­

na diketahoei, bahwa ada orang melihat... .

^^Tetapi orang itoe tidak melihat dan tidak mendengar", kata Manaf. ,,Kalau ada tentoe soadah diberi tahoekannja kepada polisi. Pikiran engkau itoe tidak bisa di- djalankan, sebab kalau njonja Soepradja

(46)

memang telah melakoekan pemboenoehan itoe, tentoe ia akan moengkir teroes, dan...

kerdja kita tidak berhasil !"

„Apa boleh bocat", kata Nata. „Roepa- nja boeroek soenggoeh kedoedoekan saja didalam hal ini !"

Sehingga ini pemeriksaan itoe dipoetoes- kan. Nata dibawa keboei. Inspecteur Manaf poelang kekantornja oentoek memberi ver­

slag. Raden Pandji Soebrata beloem hendak poelang lagi, ia kembali kekamar Raden Soe- pradja. |Mait Raden Soepradja soedah di­

bawa ketempat lain.

(47)

BAGIAN KELIMA

Patjar Kocning

••ipv IDALAM kamar Raden Soepradja H J Soebrata berpikir. Ia tidak jakin, bah- WiL-y wa Nata atau njonja Soepradja inem- boenoeh Raden Soepradja. Boleh djadi mere­

ka tjoema toedoeh-menoedoeh sadja. Me- noeroet taksirannja tidak boleh djadi njonja Soepradja datang kemoedian daripada Nata, sebab tempat Nata agak djaoeh dari kamar toean Soepradja. Kalau ditoeroetkan tjerita kedoea belah pihak, mestilah njonja Soepra- dja datang lebih doeloe. Dan dia dengan Ra­

den Soetedjo dilihat oleh Nata. Tcntoe Nata menoedoeh mjonja Soepradja. Oentoek me­

lepaskan diri, sebab keterangan dirasa me­

reka akan memberatkan bagi mereka, maka mereka toedoehlah Nata. Tetapi bila betoel begitoe, siapa jang memboenoeh ? Soebrata teringat akan toehsan diatas medja dan tan­

da Patjar Koening dilengan Raden Soepra- dja. Apa itoe Patjar Koening ? Betoelkah ada perkoempoelan itoe ? Apa alasan perkoem- poelan itoe memboenoeh Raden Soepradja ? Dan bagaimana dilakoekannja ? Apakah si pemboenoeh masoek kedalam kamar ini ? Boleh djadi, tetapi tentoe orang itoe mesti sigap benar dan tjerdik sekali. Tidak ada sedikit djoega bekas jang kelihatan. Dari mana masoeknija ? Dan dari mana keloear- nja ? Djalan lain tidak ada, melainkan

(48)

djendela. Sesoenggoehnja dari djendela itoe orang moedah keloear masoek karena tidak berapa tinggi dari tanah.

Maka Soebrata meneroeskan pemerik­

saannya. Dioelangnja memeriksa kamar itoe dengahi teliti sekali. Achirnja diperik­

sanya soerat-soerat Raden Soepradja semoeanja. Didalam soerat-soerat jang banjak tidak didapatnja sesoeatoe apa.

Laloe dikeloearkannja isi kerandjang seerat, jang kelihatan banjak berisi kertas ketji!- ketjil-ketjil bekas dirobek-robek. Semoea­

nja dipertaoetkannja, tetapi tiada jang mem­

beri tanda-tanda jang aneh.

Soepradja beloem pernah mendengar na­

ma perkoempoelan „Patjar Koening" itoe, baik didalam negeri maoepoen diloear negeri.

Laloe ditelefonnja assistentnja, jang di- soeroehnja mentjari keterangan tentang apa sebab Raden Soepradja dahoeloe berangkat

dari Soerabaja, dan kemana perginja.

Didalam pada itoe ia bertanja kepada diri- nja sendiri tentang orang disebelah roemah.

Betoel roemah itoe agak berdjaoehan sedikit, tetapi kalau disini dilepas tembakan, tentoe orang sebelah itoe mesti mendengarnija.

Mengapa Manaf tadi menolak pikiran ini dengan mengatakan, bahwa kalau orang itoe mendengar atau tahoe, tentoe ia memberi tahoe polisi ? Maka poetoeslah didalam hatinja, bahwa roemah disebelah itoe mesti diperiksanja.

(49)

Sesoedah itoe diperiksainja kembali niedja toelis Raden Soepradja. Achirmja bertemoe disitoe olehnja soeatoe lat j i rahsia, jang haloes benar rahsianja. Itoe diketahoeinja tjoema kebetoelan sadja. Didalamnja dida- patinja beberapa soerat jang berharga. Di­

antara itoe ada sepotong kertas ketjil jang paling berharga sekali didalaui perkara pemboenoehan ini. Soerat itoe tjoenia tiga baris toelisan sadja ;

Ini peringatan jang ketiga dan penghabisan kali. Perintah mesti didjalankan. Hoekoeman menanti.

Dan disoedoet soerat jang aneh ini ter­

gambar Patjar Koening. ,,Ah, roepanja Ra­

den Soepradja mendjadi anggota daripada perkoempoelan rahsia ini !" pikir Soebrata.

„Dan roepanja ia engkar mendjalankan se- soeatoe perintah jang dikenakan atas dirinja.

Hoekoeman menanti!... Memang sesoeng- goehnja soedah didjalankan ! Raden Soe- pradja mati diboenoeh oleh Patjar Koe­

ning, perkoempoelannja sendiri Menga­

pa Soepradja engkar dan keras engkar, sampai ia tidak takoet mati? Tjoema ada satoe sebab jang moengkin menjebabkan Soepradja berboeat begitoe. Pekerdjaan itoe tidak disoekainja. Dan apa jang tidak disoekainja, sedang ia mendjadi anggota perkoempoelan rahasia ? Tentoe sesoeatoe perintah jang berlawanan dengan perasaan

(50)

dan kejakinan hatinja. Kalau begitoe pasti complot ini akan meroegikan negeri complot spion ! ?"

Soebrata moelai melihat tjahaja didalam kegelapan ini jang boleh mendjadi pedoman baginja. Tetapi kemana hendak ditjarinja Patjar Koening jang tidak meninggalkan djedjak itoe ? Apakah bagian Nata, apa bagian Raden Soetedjo dan njonja Soepra­

dja didalam complot ini ? Ataukah mereka tjoema mendjadi landasan sadja, oentoek menghilangkan djedjak ? Mengapa tidak ada kabar dari orang jang diam disebelah roemah ini ?

Dari Raden Soetedjo dan njonja Soepra- dja serta Nata ia jakin, bahwa ia tidak akan memperoleh keterangan lebih landjoet. Be­

gitoe djoega dari sekalian boedjang jang diam diroemah ini. Semoeanja soedah dita- njainja dengan tehti sekali.

Karena tidak ada jang dapat diperiksanja lagi didalam kamar itoe, maka iapoen ke- loear. Bawah djendela tidakkan dapat di­

periksanja dihari gelap ini. Biarlah besok dibawanja inspecteur Manaf memeriksa ber- sama-sama. Oentoek berbitjara sekarang djoega dengan Kentjana Dewi tak djoega ada goenanja, pertama gadis ini sedang ber­

sedih hati sangat, sehingga baiklah djangan diganggoe dahoeloe, walaupoen ia jakin, bahwa ia akan dapat bantoean besar Hari nona Soepradja. Kedoea, ia hendak berpikir

(51)

dahoeloe dan mentjari keterangan ditempat lain.

Njonja Soepradja soedah pergi keka- marnja, Raden Soetedjo soedah poelang poela, walaupoen ia diawasi. Roemah itoe

did jagai oleh polisi.

Dengan sepintas laloe ia memandang keroeniah disebelah. Aneh ! Api didalam kamar jang bertentangan dengan kamar Raden Soepradja masih menjala, tetapi dari sitoe tidak ada kabar apa-apa !

Kentjana Dewi doedoek seorang diri di­

dalam kamarnja, sedang berpikir. Kesedihan hatinja soedah hilang, karena ia memikirkan pembalasan atas diri si pemboenoeh. lapoen meraba-raba didalam gelap jang seperti da­

pat disajat-sajat tebalnja. Sedjak lania soedah diperiksanja apa sebabnja ajahnja dahoeloe meninggalkan iboenja ketika ia masih ketjil. Ia jakin, bahwa iboenja me­

ninggal karena kesedihan ihati ditinggalkan oleh ajahnja. Tetapi tiada orang jang dapat mentjeritakan riwajatnja, oleh sebab iboenja adalah seorang jatim piatoe, jang

sama sekali tidak mempoenjai familie, baik jang djaoeh sekalipoen. Karena itoe Ken­

tjana Dewi dimasoekkan orang kedalam klooster. Riwajat iboe dan ajahnja seperti terpendam hilang lenjap kedalam kegelapan.

Ia pernah bertanja kepada ajahnja, jang baroe dikenalnja didalam doea tahoen ini, tetapi senantiasa diélakkan oleh ajahnja mendjawab pertanjaannja itoe. Dan senan-

(52)

tiasa dilihatnja ada awan gelap melintas didalam air moeka ajahnja, kalau ia berta- njakan itoe, sehingga tidak ditanja-tanjakan- nja lagi. Kalaupoen demikian ajahnja sangat sajang kepadanja. Apa kehendaknja diberi oleh Raden Soepradja.

Adapoen perasaan, bahwa didalam kehi- doepant ajahnja ada soeatoe rahasia besar, tidak dapat dihilangkan Kentjana Dewi dari ingatannja. Dan perasaan itoe bertambah he­

bat karena kedjadian semalam ini. Tentoe mesti ada rahasia besar didalam kehidoepan familienja, didalam kehidoepan ajahnja.

Karena memikirkan itoelah hilang roesoeh dan kebimgoengan Kentjana Dewi. Ia achir- nja mengambil ketetapan jang pasti akan memboekakan rahasia ini, mentjari si pem- boenoeh ajahnja. Tidak dipikirkannja betapa soekarnja pekerdjaan itoe oentoek dia seorang gadis, tetapi ia jakin dan per- tjaja, bahwa kerdjanja mesti akan berhasil, apa lagi karena seorang detektif jang terke­

nal soedah soeka menolongnja.

Boekan itoe sadja jang dipikirkan oleh Kentjana Dewi. Didalam soedoet hatinja terkandoeng soeatoe rahasia besar, jang ia sendiri sadja mengetahoeinja. Nata

jang sedjak moelai bertemoe dengan dia, waktoe ia moela-moela mendjedjak roemah ajahnja, soedah menarik hatinja. Dan perta­

lian rasa ini makin lama makin bertambah koekoeh, ketika ia telah lebih kenal akan Nata didalam pergaoelan sehari-hari. Ten-

(53)

tang perasaan Nata kepadanja ia tidak bimbang. Ia tahoe, bahwa Nata poen mengandoeng perasaan jang sama didaiam hatinia. Ia tidak bertepoek sebelah tangan.

Tjoema Nata tidak melahirkan perasaannja, oleh sebab ia sebagai secretaris ajah Ken- tjana Dewi mesti hormat kepada anak toeannja dan merasa tidak baik kalau la menengok kepada Kentjana Dewi lain dari­

pada sebagai anak Raden Soepradja. 1 idak pantas dan boekan pasangannja. Tetapi didaiam hatinja mestilah api pertjintaan makan sebagai didaiam sekam. Ini semoea tampak terbajang olfeh Dewi pada kegoegoe- pannja, bila ia berdekatan dengan Dewi dan pada pandangan mata Nata, bila dirasanja tiada orang jang melihat.

Karena segala itoe Dewi kasihan akan Nata. Ia mengerti, bahwa Nata tiada harapan akan melepaskan diri dan toedoe- han dan keterangan atasnja didaiam perkara pemboenoehan atas ajahnja itoe. Dewi ja- kin, bahwa Nata tiada bersalah didaiam hal ini.' Tiada sedikit djoega hatinja memberi ingat atau sjak wasangka kepada Nata. se­

bagaimana ia kenal akan Nata, ia memandang tidak moengkin Nata akan berboeat perboea- tan jang sekedji itoe. Tidak boleh djadi . Dengan sekeras-kerasnja hatinja menolak persangkaan jang tidak pada tempatnja mu Maka setelah ia mengambil kepoetoesan jang penting itoe iapoen djadi sabar dan achirnja ia tertidoer.

(54)

BAGIAN KEENAM

Soebrata mcntjioem djedjak

ADA keesokan hari soeboeh sekali ) Soebrata soedah ada bersama Manaf JKr diroemah Raden Soepradja. Dokter soedah melakoekan pemeriksaan lebih lan- djoet atas mait Raden Soepradja, akan tetapi tiada bertemoe sesoeatoe tanda jang loear biasa. Oleh sebab itoe orang sekarang se­

dang memboeat persediaan oentoek pengoe- boerannja, jang akan dilakoekan petang hari, sebab tidak ada lagi orang jang di­

nantikan karena Raden Soepradja tidak ada mempoenjai familie jang lain.

Njonja Soepradja beloem kelihatan lagi.

Kentjana Dewi sedang memeriksai soerat- soerat Raden Soepradja bersama dengan notaris dengan maksoed akan memperoleh sesoeatoe keterangan tentang rahasia kehi- doepan ajahnja. Menoeroet soerat wasiat

jang roepanja ada djoega diperboeat oleh Raden Soepradja segala harta dibagi doea, jaitoe setelah dikeloearkan sebagian sebagai hibah kepada Nata.

Didalam testament ini Raden Soepradja seperti membajangkan, bahwa ada jang di- takoetkannja, dan bahwa ia moengkin dapat ketjelakaan sewaktoe-waktoe, tetapi tidak diberinja keterangan selandjoetnja. Ini me­

nambah gelap rahasia kehidoepannja.

(55)

Didalam soeatoe soerat jang terpisah la meminta maaf kepada Kentjana Dewi. Dewi, katanja, tidak dapat mendjalani kehidoepan seperti anak orang jang biasa lantaran ka­

rena kesalahan didalam kehidoepannja dahoeloe, jang bawaannja mesti ditang- goengkan oleh anaTc isterinja, dan sekarang ia mesti pikoel sendiri. Ia merasa sedih se­

kali isterinja segera sekali meninggal dan ia merasa, bahwa itoe adalah karena salahnja.

îtoelah sebabnja Dewi segera kehilangan iboe, jang mesti memimpinnja didalam ke­

hidoepannja. Oentoek kehidoepan Kentjana selandjoetnja ada disedia'kannja oeang se-

tjoekoepnja. Ia merasa tidak sanggoep memberi Kentjana kesajangan sebagai ajah, sebab anaknja soedah terlaloe lama terpisah daripadanja, soedah mendjadi orang asing baginja.

Dimintanja, soepaja Dewi djanganlah hendaknja mentjela dia, soepaja senang ar- wahnja.

Lain tidak ada isi soerat itoe.

Didalam ia membatja itoe teringat ia akan kedjadian semalam tadi. Sedang ia tertidoer maka terbajang didepan pikirannja roepa tetangganja jang disebelah, jang melihat ke- padanja dengan air moeka jang bengis se­

kali. Dewi koentjoep ha^nja, tidak dapat bergerak. Tidak lama kemoedian ia ter- bangoen, dilihatnja djendelanja terboeka, akan tetapi tiada tanda-tanda, jang menoen-

(56)

djoekkan bahwa ada jang masoek kekamar- nja. Ia telah pernah bertemoe beberapa kali dengan tetangga itoe, ketika orang itoe di­

bawa djalan-djalan didalam keretanja oleh boedjangnja didalam taman. Dan ia selaloe takoet melihat orang itoe sebab lain benar pandangannja. Orang itoe selaloe memakan angin dihalaman disebelah keroemah Dewi.

Dan sekali peristiwa sedang Dewi didalam tempat jang kelindoengan ditaraannja la mendengar seperti orang jang bertjaroet (memaki). Didalam soeara itoe terbajang kebentjian jang amat sangat. Dewi terbit takoet mendengar soeara orang itoe. Demi dilihatnja kesekelilingnja kelihatan olehnja ajahnja sedang mendjengoek did jendela, akan tetapi tidak melihat tetangga jang lemah itoe, sebab terlindoeng oleh daoen pohon kajoe. Dan Dewi dengan njata me­

lihat pandangan mata orang lemah itoe terpantjang dengan tadjamnja kepada ajahnja. Maka terpikirlah Dewi, apa sebab maka orang itoe sangat bentji sekali kepada ajahnja, tetapi hal ini tidak mendjadi pikiran pandjang, sebab disangkanja boleh djadi orang berdoea itoe ada berselisihan, sebab bertetangga.

Sekarang kedjadian itoe hidoep kembali dengan seterang-terangnja didalam ingatan- nja. Dan waktoe ia sedang doedoek dime- dja toelis dikamar ajahnja ketika ia pada soeatoe saat menoleh kesebelah, tampak olehnja moeka orang sebelah itoe, bengis

(57)

seperti kelihatan semalam. Ia sedang doe- doek didalam keretanja dibelakang djendela.

Dewi segera memalingkan moekanja. Di- bawah terdengar olehnja orang bertjakap- tjakap. Sebentar ia hampiri djendela itoe.

adalah inspecteur Manaf dengan Raden Pandji Soebrata. Mereka sedang berdjalan- djalan didalam taman. Walaupoen seperti orang bertjakap-tjakap sadja, tetapi bagi Dewi njata, bahwa kedoeanja, sekoerang- koerangnja Soebrata sedang mentjioemi djedjak si pemboenoeh. Dewi pergi bersem- boenji, sehingga ia tidak dapat dilihat orang dari bawah dan tidak poela kelihatan dari sebelah, sedang ia sendiri dapat mengawas­

kan kedoea pihak. Didalam berdjalan-dja- lan itoe tiba-tiba Soebrata membongkok, sebab tempat rokoknja djatoeh. Akan te­

tapi Dewi melihat, bahwa Soebrata sambil mengambil tempat rokoknja ada poela me­

ngambil soeatoe benda jang berkilap dari tanah. Dewi memandang kesebelah itoe.

Diwaktoe itoe orang lemah itoe seperti ter- kedjoet mehhatkan tingkah-lakoenja Soe­

brata. lapoen menampak Soebrata mengam­

bil benda jang berkilap itoe, sedang ia tidak kelihatan dari bawah. Maka kelihatan poe- lalah air moeka orang itoe djadi bengis se­

perti tampak terbajang oleh Dewi semalam.

Inspecteur Manaf tidak memperhatikan per- boeatan Soebrata karena memang seperti biasa sadja. Ia tidak sjak wasangka.

Afbeelding

Updating...

Referenties

Gerelateerde onderwerpen :