atas orang "Mngsa djawa dan lain Mngsa, jang di samaken dengan tangsa djawa

344  Download (0)

Hele tekst

(1)
(2)

BIBLIOTHEEK KITLV

0013 6810

1 i8l

(3)
(4)
(5)

yjv?

T v;

atas orang "Mngsa djawa dan lain Mngsa, jang di samaken dengan tangsa djawa

DI

INDIA NEDERLAND

dengan pengertijan jang ringkas, aken di pake oleli Djaksa-DjaLsa, dan Lid-Lid dari Landraad

dan dari Raad Sambang

OLEH

MR. A. J. R E D E K E F ^

President L a n d r a a d

DI

Semarang-.

G. C T. VAN D O R f & Co.,

SAMARANG.

1888.

(6)

• ^ 1

(7)

BOB M i l 1 1

(8)

I!

*

(9)

t.

atas orang mngsa djawa dan lain bangsa, jang di samaken dengan bangsa djawa

DI

INDIA NEDERLAND

dengan pengertijan jang ringkas, aken di pake oleh Djaksa-Djaksa, dan Lid-Lid dari Landraad

dan dari Raad Sambang

OLEH

M R . AL, J. ' R E D E K E E ^

President Landraad

DI

Semarang.

O-. O. T . ATAlSr Ü O I t P & 0 ° .

SAMARANG.

1888.

EN " .. I

(10)
(11)

INDIA-NEDERLAND.

P B N D E H O B L O B W .AJST.

Adapoen soedah bebrapa kali ada mengadoeh dari hal koerang kapandajannja dan lajieknja Lid-Lid dari pesamoean Landraad dan pesamoean Baad Sambang

atawa koeliling, tetapi jang pertama-tama dari hal koe- rang bajieknja Djaksa-djaksa dari pesamoean itoe.

Maka sring-sring soedah kedjadian oleh loean-toean jang tjerdik, seperti toean Mr. J. VAN G E N N E P soedah membri pertoendjoekan pertoeloeng kakoerangan itoe, da- lam antara perkara ini soedah di berandai-andai sa- orang dengan sa-orang di dalem Perkoempoelan, bernama Nederlandsch-Indische Juristen Vereeniging tempo hari Saptoe tanggal 11 Juli, taoen 1 8 8 5 , sahingga dengan timbangannya toean-toean Mr. A. J. IMMINK dan Mr.

J. H . ABENDANON.

Maka kita orang soedahlah berpatoetan dengan per- toendjoekannja toean Mr. IMMINK, jang menimbang aken, boewat membuikan kakoerangan jang terseboet di atas, memang baik, djikaloe di boeka Schola Negri, di mana dia orang, jang nanti di blakang maoe mendapet pang- kat Djaksa, boleh dapet pengadjaran jang baik.

Bagitoe djoega pada kita orang poenja kapikiran memangpertoendjoekannja toean-toean Mr. J. H. BERGSMA, F . S. A. DE CLERCQ dan O. A. BURNABY LAUTIER

terlebeh poedji.

(12)

kannja Djaksa-Djaksa itoe dan Lid-Lid dari pesamoean Landraad dan Raad Sambang, ia-itoe jang paling per- he di adaken soewatoe boekoe bahasa Melajoe jang gampang dan jang moewat pengertian jang tiada ter-

laloe loewas dari apa jang terseboet di dalem Boekoe Kaädilan hoekoeman boewat anak negri.

Maka dengan ini kita orang soedah mentjobah boe- wat menjoekoepi saboleh-bolehnja kakoerangan itoe; dan kita orang harep ini kita orang ampoenja perboewatan boleh tertrima dengan seneng adanja.

R.

(13)

Adapoen sebelomnja kita orang membitjaraken dari Boekoe Hoekoeman atas orang bangsa Djawa dan bangsa jang di sa.

maken bangsa Djawa baik aken kita orang menerangken bagi- mana orang Djawa berpikirken dari hoekoem siksa.

Masing-masing orang jang memboewat perkara jang bersala- han dengan hoekoem siksa, atawa jang melalaikan (2) menoeroet bagimana di prentahken oleh hoekoem siksa itoe, memang patoet di hoekoem.

Aken tetapi ada perbedaan dan kalainan jang besar antara perboewatan jang patoet di hoekoem.

Bagitoe „pentjoerijan" di namaken kedjahatan dan memang misti di hoekoem; tetapi perkara „minta-minta", jang di hoe- koem djoega oleh hoekoem siksa, memang pada jakinnja (3) segala bangsa jang aloes (4) mendjadi hak tabiai (5) dari orang tjelaka jang dengan tiada pentjeharijan (6) dan jang tiada bo- leh melepasken saranja sendiri (').

Bagitoe terbanjak pengarang dari hoekoem siksa menama- ken „kedjahatan" segala perboewatan jang bersalahan dengan hoekoem (recht) dan „pelanggaran" segala perboewatan atawa kalalajan jang boleh di hoekoem sadja, sebab di prentahken di dalem boekoe hoekoeman (wet).

Bagitoe djoega roekoennja (8) Boekoe hoekoeman jang bah- roe dari Negri "Wolanda jang di tetapken di dalem taoen 1881 oleh kadoewa madjelis diwan segala wakil orang banjak (9).

(•) Tasdir = Inleiding (van een boek).

(2) Molalaiken = mengalpakan = nalaten, verzuimen.

(3) Jakin = sangka = overtuiging.

(*) Bangsa jang aloes = beschaafde natiën.

(5) Hak tabiai = natuurlijk recht.

(") Dengan tiada pentjeharijan = zonder middelen van bestaan.

(7) Melepasken saranja sendiri = tjari pengidoepanja sendiri = in zijn eigen onderhoud voorzien.

(8) Roekoen = beginsel, gronstelling.

(9) Madjelis diwan segala wakil orang banjak = kamers der Staten-Generaal.

(14)

Maka anak boemi tiada katahoewi melainken antara per- boewatan jang melawan dengan hoekoem (recht) dengan per- boewatan jang melawan dengan soerat oendang-oendang (wet);

dan lagi, djikaloe melihat dia ampoenja soerat oendang-oen- dang, memang trang jang pada penglihatannja kedjahatan tiada lain melainken perboewatan jang bersalahan dengan kakajaän atawa jang bersalahan dengan milik dan jang mewadjibkan orang jang memboewat perkara djahat aken ganti karoegian itoe.

Bagitoe fatsal 25 dari „Kitab Toepah" prentah aken di da- lem perkara memboenoeh lebeh dari satoe orang aliwaris- aliwaris misti berseri (') siapa jang boleh meminta bangoen (2); dan dari sebab itoe pemboenoeh tiada boleh di hoekoem, djikaloe sanak soedaranja orang jang di boenoeh itoe melepas- ken penoedoehan (3).

Lain dari pada itoe fatsal 8 dari „Nawolo Pradoto" prentah aken siapa mendapet karoegian dari pada penjamoenan (*) dia misti merabri tahoe perkara itoe kapada „Pradoto" di dalem ampatpoeloeh hari; dan djikaloe dia tiada mengataken per- kara itoe di dalem ampatpoeloeh hari Pradoto tiada boleh trima penoedoehannja.

Fatsal 12 dari „Kitab Toepak" menghoekoemken sadja orang jang menikam soewatoe orang, djikaloe orang itoe mati oleh perboewatan itoe tetapi tiada menghoekoem pembantoenja.

Bagitoe orang jang memboenoeh soewatoe orang jang hen- dak mati (stervende) tiada di hoekoem bagitoe kras, seperti orang jang memboenoeh sa-orang jang segar (gezond).

Lain dari pada itoe ada lagi satoe kitab hoekoem Djawa, bernama „Anger Sepoeloeh" jang menghoekoemken segala ke- djahatan dengan denda; aken tetapi, djikaloe itoe denda tiada di bajarken fatsal 51 dari boekoe hoekoeman itoe menjiksaken pada jang salah dengan lima ratoes sebat (5).

Adapoen kitab hoekoem Djawa bernama „Nawolo Pradoto", 0) Berseri = door het lot beslissen.

(2) Bangoen = dijat = bloedprijs (boete voor een manslag).

(3j Melepasken penoedoehan = van de aanklacht afzien.

(4) Penjamoenan = straatroof.

(5) Sebat = riet- of rotanslagen.

(15)

„Anger Sepoeloeh", „Kitab Toepah" dan Boerat oendang-oendang dari Negri „Tjeribon" tiada menghoekoemken „pmtjobaän", sebab perkara itoe sebanjakkalmja tiada bikin karoegiannja lain orang.

Bagitoe djoega soerat oendang-oendang jang terseboet di atas djarang sekali membitjaraken dari perkara „sakoetoe" (me- deplichtigheid); dan tiada menghoekoemken jang sakoetoe, djikaloe dia tiada mendjadiken karoegiannja lain orang; aken t e - tapi menghoekoemken jang sakoetoe sama djoega seperti orang jang memboewat kedjahatan, djikaloe perboewatannja jang

sakoetoe mendjadiken karoegiannja lain orang.

Maka pengertijannja anak boemi dari perkara „pentjoerijan"

patoet di priksa sendiri-sendiri, sebab kedjahatan ini memang boleh di bilang katjelaan betoel (1) dari bangsa Djawa dan terbanjak perkara, jang di boeroe di hadepan Pengadilan Lan- draad memang perkara „pentjoerijan", atawa jang tentang betoel dengan itoe kedjahatan: perkara langgar pertjaja dan bikin. bodo.

Maka hoekoem siksa atas bangsa Djawa dan bangsa jang di sàmaken dengan bangsa Djawa misti melakoekan perkara ini dengan perhatijan (a) jang terlebeh di tjinta dan sebrapa bolehnja misti toeroet adat poesakanja bangsa itoe aken peri hal pentjoerijan dan akan segala hal-ahoewal jang dari pikiran- nja anak boemi boleh bikin brat pentjoerijan.

Djikaloe orang priksa soerat oendang-oendang jang belom bagitoe di obahken oleh „Hoekoem Islam" dan jang roeng- kap (3) lebeh betoel dan lebeh trang sangkanja jang tegoh (*) dari bangsa Djawa itoe, orang lantas mendapet tahoe aken orang bangsa Djawa, seperti orang benoewa Eropa menama- ken „pentjoerijan' perkara mengambil lain orang ampoenja barang dengan melawan hak dan aken pake barang itoe seperti dia ampoenja milik. Aken tetapi kitab hoekoem Djawa, se- perti soerat oendang-oendang dari Negri Tjeribon dan „Nawolo Pradoto" menamaken „pentjoerijan" perkara ambil dengan akal djahat soewatoe barang jang terbawa (5), jang boekan dia

(') Katjelaän betoel = volksondeugd.

(2) Perhatijan = zorg. Perhatijan jang terlebeh di tjinta = met de meeste zorg- (3) Roengkap = uitdrukken.

; (4) Sangka jang t e g o h ' = j akin = vaste overtuiging.

(5) Barang jang terbawa = roerende zaken.

(16)

ampoenja sendiri (fatsal 3, 4 dan 22 dari kitab Nawolo Pra.

doto. Tijdschr I I I . p. 143.)

Boepati dari Negri Koedoes rnenjeboet toedjoehblas roepa perkara pentjoerijan.

Adapoen kitab, bernama Anger Pradoto menamaken „maling''' siapa jang mendapet soewatoe barang dan jang tiada kasieh kombali barang itoe kapada jang ampoenja barang itoe.

Maka di Poeloe Sumatra di kataken maling, djikaloe orang ambil soewatoe barang dari satoe tempat simpenan; dan di kataken tjoeri, djikaloe orang mengambil soewatoe barang, jang tiada di simpen di dalem tempat simpenan.

Adapoen boekoe hoekoeman Djawa djoega tiada melainken dengan betoei antara pentjoerijan dengan kedjahatan langgar pertjaja, atawa dengan kedjahatan bikin glap barang (verduis-

tering).

Bagitoe soerat oendang-oendang dari Negri Tjeribon me- namaken maling, siapa jang tiada trimaken kombali kapada jang ampoenja barang-barang jang dia soedah taoe pindjem

(Tijdschr. I I I . p. 137 )

Bagitoe djoega di poeloe Sumatra perkara palsoe di dalem soerat hoetang di samaken dengan pentjoerijan (I. "W. 386).

Perkara jang pada sangkanja orang bangsa Djawa membi- kin brat pentjoerijan :

l e . Djikaloe mentjoeri waktoe malem ;

2e. Djikaloe mentjoeri dengan paksa, atawa dengan poekoel mati orang ;

3e. Djikaloe mentjoeri koeda, binatang moewatan, binatang penarik, kerbo, sapi atawa kambing di tempat pangonan;

atawa padi jang soedah teriket; atawa barang jang am- poenja kapala-kapala ;

4e. Djikaloe mentjoeri di' dalem kampong atawa di da- lem desa.

5e. Djikaloe mentjoeri di dalem roemah, jang di tempatti orang (bewoond huio).

Aken tetapi djarang peri hal bikin pitjah barang di seboet- ken mendjadi perkara kebratan.

Sebab apa sekarang orang isi negara di bawa aken mem- boewat kedjahatan ?

(17)

Djikaloe kita orang melihat soerat-soerat pemberitaan (') dari perhimponan madjelis hoekoem (2) di dalem perkara kri- mineel, kita orang mendapet, aken pembalesan (3) terbanjak kali mendjadi sebabnja anak boemi memboewat kedjahatan.

Bagitoe satoe orang lelaki poekoel mati satoe orang peram- poewan, sebab itoe perampoewan menjentak (4) dia poenja badjoe; dan orang lelaki itoe berasa perkara itoe mendjadi ben- tjana (5) jang besar (I. "W". 242.)

Maka lain orang soeroeh memboenoeh dia poenja soedara, sebab ini soedah mendjoewal soewatoe pohon jang mendjadi poesaka atsal dari dia orang poenja bapa (I. "W. 253.)

Adapoen lain orang lagi menoekasi (6) pada satoe orang, jang tiada bersalah, dengan pentjoerijan, sebab orang itoe tiada kasieh kombali bras, jang dia soedah pindjem dehoeloe (I. W . 106).

Maka lain orang lagi membakar dengan sengadja roemahnja loerahnja, sebab loerah itoe mendawa pada orang itoe sebab dia tiada maoe toeroet prentahnja loerah itoe,

Adapoen lain dari pada itoe ada seriboe perkara lebeh jang bagitoe roepa.

Maka sebabnja jang lain jang membawa djoega pada anak boemi aken momboewat kedjahatan memang tachajoel (7) dan loba" (8) d a n „kemaloewan" (°).

Maka orang Djawa ketjil gampang dan lekas boleh di bi- kin maloe; dan djikaloe dia maloe sring-sring dia memboewat kedjahatan sebab takoet sekali dia di tertawai.

Bagitoe orang atsal dari poeloe Mendoera lekas marah.

Pada perasaännja orang perampoewan jang keroetoet (I0) pa- toet di tertawaken; maka sebab itoe orang perampoewan jang

(') Soerat pemberitaan = proces verbaal. • (2) Perhimponan madjelis hoekoem = terechtzitting.

(3) Pembalesan = wraakzucht.

(4) Menjentak = tarik dengan kras = trekken (met een ruk).

(5) Bentjana = beleediging.

(6) Menoekasi = valschelijk beschuldigen.

C) Tachajoel = bijgeloof.

(8) Loba = tama = hebzucht.

(9) Kemaloewan = schaamte.

(,0) Keroetoet = mismaakt.

(18)

pintjang atawa jang ada soewatoe tjela badan ( ' ) jang lain soekar (2) sekali maoe di kawinken.

Bagitoe satoe orang lelaki soedah memboentingken soewa- toe orang perampoewan jang pintjang dan sanak soedaranja orang perampoewan itoe meringgik-ringgik (3), aken orang le- laki itoe hendak di berinja beristeri pada orang perampoewan jtoe; tetapi tiada djoega dia maoe, sebab dia takoet di olok- olok (4) oleh orang sadoesoenja; dan lantas dia menentoeken aken memboenoeh sadja kendaknja.

Djikaloe kita orang timbang sekarang segala semoewa jang soedah terseboet di atas dan menanding (5) itoe dengan boe- koe kaädilan hoekoeman, memang trang dengan njata aken jang mengadaken hoekoem oendang (G) itoe tiada ingat sekali adat poesakanja orang Djawa dan bangsa jang di samaken dengan bangsa Djawa.

Adapoen sekarang kemoedian dari pada ini kita orang maoe membitjaraken dari Boekoe kaädilan hoekoeman atas bangsa Djawa dan bangsa jang di samaken dengan bangsa Djawa.

(') Tjela badan = tjela toeboeh = lichaamsgebrek.

(2) Soekar = moesjkil = soesah = bezwaarlijk.

(3i Meringgik-ringgik = op iets aandringen b. v. tot het aangaan van een huwelijk.

(*) Mengolok-olok = menjindirken = bespotten.

(5) Menanding = vergelijken.

(6) Jang mengadaken hoekoem oendang = wetgever.

(19)

ISINJA INI BOEKOE SATOE-SATOENJA.

MoEKA.

BOEKOE JANG PERTAMA.

P E R K A R A K E D J A H A T A N D A N P E L A N & G A R A N D A N H O E -

KOEMANNJA SEKALIAN.

G E L A R A N J A N G P E E T A M A . Perkara kedjahatan dan pelanggaran dan pentjo-

baän jang bolih di hoekoem 1.

G E L A E A N J A N G KA-DOEWA.

Perkara hoekoeman sekalian 7.

G E L A E A N J A N G KA-TIGA.

Perkara hoekoeman sendiri-sendirinja 12.

G E L A E A N J A N G KA-AMPAT.

Perkara memboewat kedjahatan lebih dari satoe kali. 18.

G E L A E A N J A N G KA-LIMA.

Perkara sekoefcoe, atawa tjampoer di dalem kesa-

lahan 20.

G E L A E A N J A N G K A - A N E M .

Perkara jang tiada boleh di salahken, dan jang me-

lepasken, dan èntèngken kesalahan 24.

Prentah pengabisan 30.

(20)

BOEKOE JANG KADOEWA.

PERKAEA KEDJAHATAN DAN PELANGGABAN SATOE-SATOENJA.

G E L A R A N J A N G P E R T A M A .

KEDJAHATAN DAN PELANGGABAN ATAS PEEKAEA SEKALIAN.

BAB JANG PEBTAMA.

KEDJAHATAN JANG MEEOESAKKEN KASENANGAN DI I N D I A - N E D E B L A N D .

B A G I A N J A N G P E R T A M A .

MOEKA.

Kedjahatan jang meroesakken kasenangan di loe- war India-Nederland

B A G I A N J A N G KA-DOEWA.

Kedjahatan jang meroesakken kasenangan di dalem

India-Nederland 4 0-

B A G I A N J A N G KA-TIGA.

Memboeka dan tiada memboeka kedjahatan jang meroesakken kasenangan di loewar dan di dalem In-

dia-Nederland 4° -

BAB JANG KA-DOEWA.

K E D J A H A T A N D » N P E L A N G G A E A N ATAS A T O E E A N P E R K A - E A J A N G S O E D A H T E T A P .

B A G I A N J A N G P E R T A M A .

Kedjahatan perkara djalanken hak pilih . . . . 5 1 . B A G I A N J A N G K A - D O E W A .

Perboewatan jang meroesakken kelakoewan jang mardika

B A G I A N J A N G KA-TIGA.

Moofakatnja priaji-priaji jang oemoem 58.

B A G I A N J A N G KA-AMPAT.

Perkara priaji jang djalanken prentah dan priaji pengadilan, djikaloe ambil koewasa jang boekan koe-

wasanja ""•

Prentah pengabisannja Bab ini 6 1 .

(21)

BAB JANG KA-TIGA.

KEDJAHATAB DAB PELABGGAEAB JABG MEBOESAKKEB KASE- BABGAB JABG OEMOEM.

B A G I A N J A N G P E R T A M A . PEEKAEA PALSOE.

MOEKA.

§. 1, Oewang palsoe ""•

„ 2. Perkara tiroe zegel dan oewang kertas, dan soerat oetang jang oemoem, dan tjap-oedjian, atawa tjap-kertas, dan tjap-koempeni, dan lain-

lainnja ' 0 .

„ 3. Perkara palsoe di dalem soerat jang sah, dan di dalem soerat-soerat dagangan, dan dalem

soerat-soerat Bank ' " •

„ 4. Perkara palsoe di dalem soerat-soerat di ba-

wah tangan ""•

„ 5. Perkara palsoe di dalem soerat-pas, dan soe-

rat-prentah djalan, dan soerat tanda tangan . 85.

Prentah pengabisan Bagian ini °9.

B A G I A N J A N G KA-DOEWA.

Perkara kedjahatan dan pelanggaran jang di boe- wat oleh priaji-priaji jang oemoem, koetika djalan-

ken pekerdjaännja 90.

§. 1. Perkara bikin glap barang oleh priaji jang

oemoem jang misti trima atawa simpen . . 90.

„ 2. Perkara penganiajaän, atawa knevelarij. . . 95.

„ 3. Perkara orang jang tjampoer dalem perkara perkara, atawa dalem perboewatan dagang, jang tiada boleh di koempoelken dengan pe-

kerdjaännja 98.

§. 4. Perkara sorok 99.

„ 5. Perkara langgar kakoewasaän 105'

„ 6. Perkara djalanken kakoewasaän jang oemoem, sebelomnja dapet, atawa sasoedahnja ilang

koewasanja . " ' • Prentah pengabisan dari bagian ini 112.

(22)

B A G I A N J A N G KA-TIGA.

P E B K A B A M E B O E S A K K E N A T O E E A N JANG OEMOEM OLEH PADRI ATAWA P A K D I T A WAKTOE DJALAKKEK P E K E B D J A a K K J A .

M O E K A .

Dari perkara kira-kira Jang salah atawa tjela, ata- wa dari pengasoetan melawan pamrentah Jang oemoem,

waktoe bitjara mengadjar di hadepan orang banjak . 115.

B A G I A N J A N G KA-AMPAT.

P E E A W A K A K DOERHAKA DAN LAIN-LAIN KAKOEBANGAK EAPADA PAMEEKTAH JANG OEMOEM.

§. 1. Pelawanan atawa doerhaka 117.

„ 2. Perkara merabri maloe dan bikin aniaja ka- pada pamrentahan Jang oemoem dan kapada

kakoewasaän Jang oemoem 122.

,, 3. Perkara tiada maoe djalanken pekerdjaän jang

sah, jang misti di djalanken 128.

„ 4. Perkara larinja orang toetoepan, dan semboe-

niken orang jang boewat kedjahatan . . . 130.

,, 5. Perkara bikin pitjah tjap atawa zegel dan mengambil soerat-soerat dari tempat simpe-

nan jang oemoem 137.

,, 6. Perkara bikin roesak tanda-tanda peringatan.

,, 7. Perkara pake gelaran, atawa pekerdjaän den-

gan koewasanja sendiri 142.

,, 8. Perkara ganggoe orang jang djalanken aga-

manja 145.

B A G I A N J A N G KA-LIMA.

PEEKABA PEEKOEMPOELAK OBAKG DJAHAT, DAK OBAKG M E L A N T J O K G , DAK OBAKG MIKTA-MIKTA.

§. 1. Perkoempoelan orang djahat 147.

„ 2. Perkara pelantjongan dan minta-minta . . 149.

B A G I A N J A N G KA-ANEM.

Perkara adoe-adoe orang boewat kedjahatan di da-

lem perkoempoelan jang halal dan oemoem . . . . 152.

(23)

M O E K A .

G A L A R A N J A N G KA-DOEWA.

P E E K A B A KEDJAHATAN DAN PELANGGAEAN ATAS OBANG SATOE-SATOENJA.

BAB JANG PERTAMA.

K E D J A H A T A N BAN PEIANGGAEAN ATAS O B A N G - O B A N G .

B A G I A N J A N G P E R T A M A .

P E B K A E A P O E K O E E A N M A T I D A N L A I N K E D J A H A T A N A T A S

K A H I D O E P A N O B A N G D A N A N T J A M - A N T J A M D A B I K A N I A T A N J A N G D J A H A T ATAS O B A N G .

§. 1. Perkara poekoel mati, dan boenoeh, dan boe-

noeh bapa, dan boenoeh anak dan peratjoenan. 1 5 4 .

,, 2. Perkara antjam-antjam 164.

B A G I A N J A N G KA-DOEWA.

Perkara meloekaken dan memoekoel dengan senga-

dja, dan Iain-lain kedjahatan dengan sengadja . . . 165.

B A G I A N J A N G KA-TIGA.

P E K K A R A B I K I N M A T I O R A N G T I A D A D E N G A N S E N G A D J A , D A N M E - L O E K A K E N DAN MEMOEKOEL TIADA DENGAN SENGADJA; DAN

KEDJAHATAN JANG BOLEH DI AMl'OENI, DAN PERKARA JANG KEDJAHATAN TIADA BOLEH DI AMPOENI, DAN

POEKOEL MATI, BIKIN EOEKA DAN POEKOEL, JANG TIADA BOLEH DI HOEKOEM.

§. 1. Perkara bikin mati orang tiada dengan se- ngadja, dan meloekaken dan memoekoel tiada

dengan sengadja 172.

„ 2. Perkara kedjahatan jang boleh di ampoeni, dan perkara jang kedjahatan tiada boleh di

ampoeni 174.

„ 3. Perkara poekoel mati dan meloekaken dan

memoekoel jang tiada boleh di hoekoem . . 178.

B A G I A N J A N G KA-AMPAT.

Perkara meroesakken kelakoewan jang baik . . . 179.

BAGIAN J A N G KA-LIMA.

Perkara tangkep orang tiada dengan sah, dan me-

nahan orang tiada dengan sah 185.

(24)

MoEKA.

BAG-IAN J A N G KA-ANEM.

Kedjahatan-kedjahatan jang baik aken menegahken atawa menijadaken ketrangan dari asalnja dan peri ka-

ädannja satoe anak, atawa aken kena behaja ka- ädaännja; dan melariken orang jang be-

lom akal balighr ; dan langgar per- aloeran tanem orang mati.

§. 1. Kedjahataii-kedjahatan atas anak 189.

„ 2. Perkara melariken orang jang belom akal ba-

lighr 1 9 5-

,, 3. Perkara melanggar peratoeran tanem orang

mati iMo.

B A G I A N J A N G K A - T O E D J O E H .

Perkara saksie pahoe, fitnah, tjelaji, dan bikin maloe dan lain-lainnja, dan perkara memboekaken rahasija.

§. 1. Perkara saksie palsoe 202.

„ 2. Eitnah, tjelah, dan bikin maloe dan lain-lainnja. 207.

,, 3. Perkara memboekaken rahasija 219.

BAB JANG KA-DOEWA.

Kedjahatan dan pelanggaran atas melik.

B A G I A N J A N G P E R T A M A .

Pentjoerijan 221.

B A G I A N J A N G K A - D O E W A .

Kedjahatan jang terboewat tempo djatoehnja atawa bangkroetnja orang berdagang, dan tempo brentiken

bajaran 243.

B A G I A N J A N G KA-TIGA.

BIKIN BODO, DAN STELLIONAAT DAN LAIN-LAIN ROEPA TIPOEAN.

§. 1. Bikin bodo dan stellionaat 252.

„ 2. Langgar pertjaja 258.

„ 3. Blie, pegang gade, simpen atawa trima, ken- dati apa djoega namanja, dari barang-barang jang djadi toeroetannja selangkap pakajan

atawa sendjatanja orang militair 265.

„ 4. Pelanggaran dari prentah-prentah atas roemah

main, dan mainan loterij, dan roemah gadean. 268.

(25)

M O E K A .

§ 5. Perkara meiijoekarken orang ampoenja tawa-

ran 270.

6. Perkara meroesakkon peratoeran perkara pa-

berik, dan pernijagaän, dan ilmoe . . . . 271.

,. 7. Kedjahatan dari rakanan, atawa lengganan

(leverantiers) 276.

B A G I A N J A N G KA-AMPAT.

Perkara meroesakken, dan membinasaken raeliknja

lain orang dengan sengadja 278 Prentah pengabisan dari Bab ini 296.

Prentah pengabisan dari Boekoe Hoekoeman ini 296.

Prentah pengantian, atawa kaöbahan 298.

Hoeboengan 305.

A. Toeladan dari soerat dakwa 307.

B. Toeladan dari soerat sita 309.

(26)
(27)

ATAS BANGSA DJAWA DAN LAIN BANGSA JANG DI SAMAKEN DENGAN BANGSA DJAWA

DI

INDIA-NEDERLAND.

BOEKOE JANG PERTAMA,

IPerkara kedjahatan dan. pelang-g-aran dan hoekoemannja sekalian.

GELaEÄl JANG PERTAMA

Perkara kedjahatan dan pelanggaran dan pentjobaän jang bolih di hoekoem.

F A T S A L 1.

Jang di namaken pelanggaran, ja-itoe : djikaloe memboewat barang jang di larang di dalem Peratoeran besar dan ketjil dari Policie, atawa siapa jang tiada menoeroet itoe peratoeran;

siapa jang memboewat kesalahan, jang di larang di dalem Peratoeran dari pada kahasilan negri dan dari pada pak-pak dengan ada hoekoemanja, jang tiada lebeh brat dari pekerdja- än paksa tiada dengan ranle, dan dari denda oewang di djatoeh- ken sama sekali, atawa sendiri-sendiri, dengan merampas ba- rang, atawa tiada dengan merampas barang ; siapa jang mem- boewat kesalahan jang di larang di dalem lain Peratoeran besar dengan ada hoekoemanja jang tiada lebeh brat dari pada kerdja pakerdjaän negri dengan dapet makan, tiada dengan

(28)

hajaran, dan dari denda oewang di djatoehken sama sekali, ata- wa sendiri-sendiri, dengan merampas barang atawa tiada den- gan merampas barang ; atawa siapa jang tiada memboe- wat jang di printahken 'di dalem peratoeran-peratoeran jang terseboet di atas.

Maka di dalem perkara pelanggaran jang boleh di hoekoem tiada teritoeng hoekoem toetoep, [lijfsdwang;) jang di dialanken djikaloe orang tiada bajar denda, menoeroet bagimana pera- toeran dari pada itoe perkara.

Djadi jang di namaken kedjahatan segala perboe- watan jang temtoe djahat dan jang di boewat dengan sengadja (opzet; dolus) dan jang misti di hoekoem den- gan hoekoeman crimineel; maka jang di namaken pelanggaran jang di hoekoem dengan hoekoeman poli- tie, dan jang sendirinja tiada bersalah, tetapi jang di hoekoem dari sebab kamaoewannja jang maha koewasa;

djadi pentjoerijan tentoe salah, djoega djikaloe tiada ada boekoe kaädilan hoekoeman; tetapi orang jang tempoe malern djalan di djalan besar tiada berpake api sendirinja tiada bersalah; tjoerna di hoekoem, se- bab dari prentahnja toewan besar Resident, aken di bikin ilang pentjoerijan-tjoerijau.

Djadi orang tiada boleh di bilang memboewat soe- watoe kedjahatan, djikaloe tiada memboewat itoe ke- djahatan dengan sengadja {opzet, dolus).

Kedjahatan djoega di bagi:

le. Kedjahatan jang oemoem {gemeenschappelijke, communia) dan :

2e. Kedjahatan jang istimewa {bijzondere, speciale,

propria). Jang di namaken kedjahatan jang oemoem,

ja-itoe: jang boleh terboewat pada segala orang; teta-

pi kedjahatan jang istimewa, ja-itoc: jang di boewat

(29)

pada soewatoe matjeui orang orang, seperti pada Mi- litair, atawa pada Priaji-priaji.

Bagitoe kedjahatan di bilang soedah kedjadian, atawa tiada kedjadian; tetapi telah moelai tjoba mem- boewat soewatoe kedjahatan, ja-itoe di namaken pen- tjobaän {fat sal 3 B. K. H.) t

1

)

Apa jang terseboet di dalem fatsal 1, itoe di poe- ngoet dan di ambil dari peratoeran di dalem staats- blad 1848 No. 6,

Djadi jang di namaken pelanggaran, djikaloe orang memboewat, atawa tiada memboewat barang jang di larang atawa jang di soeroe memboewat dengan ada hoekoemanja.

le. Di dalem peratoeran besar dan ketjil dari pa- da politie.

2e. Di dalem peratoeran dari pada kahasilan negri dan dari pada pak-pak; dan

3e. Di dalem lain peratoeran besar.

Maka fatsal 1 ini membilang jang di namaken pe- langgaran, ja-itoe: perboewatan jang di hoekoem den- gan hoekoeman jang tiada lebeh brat dari pada ker- dja paksa tiada dengan rante dan denda oewang, di djatohken sama sekali, atawa sendiri, dengan merampas barang atawa tiada dengan merampas barang, dan lagi perboewatan jang hoekoemannja tiada lebeh brat dari pada kerdja pekerdjaän negri dengan dapet makan, te- tapi tiada dengan hajaran, dan tiada lebeh brat dari pada denda oewang.

Aken tetapi tiada membitjaraken dari perboewatan, jang di hoekoem sadja dengan merampas barang. Te.

tapi Raad van Justitie di Batawie dan lagi Hoog Ge-

(') B. K. H. maoc bilang lioekoe Kaädilan Hoekoeman.

(30)

rechtsbof soedah poetoes dan soedah terntoeken itoe kasalahan misti di namaken pelanggaran djoega.

(I. W. 665.)

Maka sring-sring di tanjak apa orang jang mem- boewat pelanggaran misti memboewat itoe dengan sengadja.

Maka saja poenja pendapettan, rnenoeroet poetoesa- nja Hof besar di Betawie, tiada perloe aken orang jang memboewat pelanggaran, boewat itoe dengan sengadja;

djadi siapa jang memboewat pelanggaran tiada den- gan sengadja, atawa siapa jang memboewat pelang- garan, jang dia tiada taoe sekali, itoe di namaken pelanggaran, ja-itoe misti di hoekoem djoega (Arr.

H. G. 3 Juli 1873. Tijdschrift X X X I I I 211.)

F A T S AL 2.

J a n g di namaken kedjahatan, ja-itoe: djikaloe memboewat soewatoe barang (kesalahan), jang di larang di dalem peratoe- ran besar dengan ada lioekoemanja, dan jang tiada termasoek di dalem katranganja pelanggaran; atawa djikaloe tiada mem- boewat soewatoe barang jang di prentahken di dalem pera- toeran besar dengan ada hoekoemanja dan jang tiada terma- soek di dalem ketranganja pelanggaran.

Fatsal ini sama djoega fatsal 2 dari boekoe straf- wet Blanda.

Di dalem ini fatsal di bilang segala kesalahan jang tiada termasoek di dalem katraügannja pelanggaran, di namaken kedjahatan.

F A T S A L 3.

Djikaloe orang telah moelai tjoba memboewat soewatoe kedjahatan jang telah kaliatan tandanja dan djikaloe hoekoem-

(31)

anja lebeh brat dari pada pekerdjaän paksa tiada dengan rante dan djikaloe pentjobaän itoe tertahan, atawa tiada ke- djadian, kerna dari sebab jang kaget-kaget datengnja, atawa kerna dari sebab jang boekan kamaoewannja orang, jang mem- boewat itoe ; maka dia misti di hoekoem dengan hoekoeman jang koerang bratnja dari pada hoekoeman orang, jang boe-

wat kedjahatan itoe; tetapi bagian jang pengabisan dari pada fatsal ini tiada termasoek itoeng dalem perkara itoe.

Adapoen prentah ini tiada di djalanken atas denda dan atas tambahan hoekoeman jang di djalanken atas pentjobaän dan atas perboewatan

Djikaloe kedjahatannja misti di hoekoem kerdja paksa den- gen rante, jang terseboet di dalem fatsal 5 no. 4, maka pentjobaännja misti di hoekoem kerdja paksa tiada dengan rante dari satoe sampe lima taoen.

Fatsal ini berkata dari pentjobaän memboewat soe- watoe kedjahatan dan dari hoekoemannja; tetapi tiada bilang, kapan itoe pentjobaän moelai dan kapan soedah djadi kedjahatan.

Jang di namaken pentjobaän, ja-itoe: soewatoe per- boewatan djahat, jang soedah moelai djadi, jang te- lah kaliatan tandanja; tetapi jang tiada kedjadian, kerna dari sebab jang boekan kemaoewannja orang, jang maoe memboewat itoe kedjahatan.

Adapoon tiada sampe, djikaloe orang soedah inget

dan maoe boewat soewatoe kedjahatan; tetapi itoe ke-

djahatan misti telah moelai. Bagitoe djikaloe orang

soedah bli pedang, atawa lain barang tadjem dengan

inget dia maoe memboenoeh lain orang dan dia soe-

dah semboeni sendiri, boewat toenggoe kadatengnja

itoe orang, jang dia maoe boenoeh, dan lagi itoe

orang jang maoe di boenoeh tiada ada dateng, itoe

tiada termasoek di bilang pentjobaän.

(32)

Bagitoe djoega, siapa jang dengan panas hati inen- tjaboet dia poenja kris sadja, tiada boleh di bilang salah pentjobaän boewat rnemboenoeh atawa meloe- kai orang. Lain dari pada itoe betoel jang di namaken pentjobaän, djikaloe orang maling soedah niasoek di dalem lain orang poenja roernah, dengan dia soedah tergali tanahnja di bawah pagar roernah, atawa dji- kaloe dia soedah boeka dan potong talinja pintoe atawa pagar pagar dari itoe roernah, dan soedah ma- soek di dalem itoe roernah dengan ineret dia maoe mentjoeri, apa jang bisa terdapet di dalem itoe roe- rnah; tetapi tiada kedjadian dia mentjoeri, sebab jang poenja roernah soedah bangoen dan maling soedah lari, sebelomnja dia angkat barang apa-apa.

Kesalahan pentjobaän misti di priksa pada hakim, jang misti priksa dan poetoesken kedjahatan sendiri-

FATSAL 4.

Adapoen pentjobaän langgar peratoeran besar dan ketjil dari pada politie tiada boleh di hoekoem.

Djikaloe' orang tjoba membikin salah perkara pelanggaran jang terseboet di dalem fatsal 1 dan tjoba membikin salah perkara kedjahatan jang hoekoemanja tiada lebeh brat dari kerdja paksa tiada dengan rante, maka itoe boleh di hoekoem di dalem perkara jang memang di tamtoeken boleh di hoekoem, djikaloe perkara itoe pentjobaän ada tjoekoep, bagimana jang di trangken di dalem bagian jang pertama dari pada fatsal 3-

Djikaloe ada perkaranja jang boleh di hoekoem, maka hoe- koemannja sama djoega sepertie hoekoem atas perboewatan, djikaloe tiada di prentahken lain roepa, atawa djikaloe per- boewatannja jang telah tjoekoep, misti di hoekoem dengan kerdja paksa tiada dengan rante, maka pentjobaänja jang bo.

leh di hoekoem misti di kenaken hoekoeman jang di koerangi dengan satoe bagian dari tiga.

(33)

Ini fatsal seperti fatsal 4 dari boekoe hoekoeman Wolanda. Pentjobaän langgar peratoeran dari pada politie tiada boleh di hoekoem ; tetapi pentjobaän langgar peratoeran lain boleh di hoekoem, djikaloe di prentahken pada boekoe kaädilan hoekoeman; tetapi pentjobaän itoe tiada boleh di hoekoem, sebab di dalem staatsblad atawa boekoe kaädilan hoekoeman;

tiada di tamtoeken itoe perkara boleh di hoekoem.

Djoega siapa jang tjoba memboewat kedjahatan, jang hoekoemannja tiada lebeh brat dari kerdja paksa

tiada dengan rante, tiada boleh di hoekoem, djika- loe tiada di tamtoeken di dalem boekoe wet.

Di dalem fatsal 178, 304, 305 dan 317, dari boe- koe hoekoeman atas bangsa djawa pentjobaän kedja- hatan di tamtoeken misti di hoekoem.

GELARAN JANG KADOEWA.

P e r k a r a h o e k o e m a n s e k a l i a n .

FATSAL 5.

Hoekoeman-hoekoeman atas kedjahatan dan pelanggaran ja- itoe bagimana di bawah ini :

I e . Hoekoeman mati;

2e. Pekerdjaän paksa dengan rante dari lima sampe doewa poeloeh taoen;

3e. Pekerdjaän paksa dengan rante dari lima sampe lima- blas taoen;

4e. Pekerdjaän paksa dengan rante dari lima sampe sepoe- loeh taoen;

5e. Pekerdjaän paksa tiada dengan rante lama-lamanja lima taoen; tetapi misti toeroet djoega prentah jang ketjil-ketjil dari pada hoekoeman jang lebeh lama.

(34)

6e. Bekerdja di pekerdjaän negri dengan dapet makan tetapi tiada dengan dapet bajaran lama-lamanja tiga boelan;

7e. Hoekoeman toetoep lama-lamanja delapan hari;

8e. Denda.

Hoekoeman-hoekoeman jang terseboet di dalem ini fatsal djoega menoeroet boekoe hoekoemaii Wolanda.

Aken ganti hoekoeman tuchthuis, di ganti kerdja pak- sa dengan r ante, dan aken ganti hoekoeman toetoep (gevangenis straf) di ganti kerdja paksa tiada den- gan rante.

le. Timbang-menimbang hal sring-sring djadi di negri Djawa, aken saksi-saksi tiada boleh di pertjaja dia poenja atoeran, sebab atoeranja falsoe; sring-sring djoega djadi saksi-saksi dapet pengadjaran dari goeroe boewat kassi atoeran begini atawa begitoe, djadi sring- sring mendjadiken pesakitan di hoekoem mati dan djoega di gantong, kendati dia tiada ada salah. Ba- gitoe pendapetnja fokaha banjak hoekoem mati misti di angkat dari boekoe hoekoeman dan misti di gan- ti dengan hoekoeman lain.

2e. Bagitoe djoega hoekoeman kerdja paksa dengan rante sebab di negri negri panas itoe rante atawa jang terbilang lebeh baik kalong jang itoe orang hoe-

koeman misti terpake terlaloe brat. Tetapi lain dari

itoe saja kira itoe hoekoeman gampang boleh di gan-

ti dengan kerdja paksa tiada dengan rante tiada le-

beh dari doewa poeloeh taoeu dan menoeroet boekoe

hoekoeman baroe di negri Wolanda tjoema seboet

hoekoeman jang paling brat dengen kasi koewasa ka-

pada hakim boewat hoekoem bagimana pendapetannja.

(35)

FATSAL 6.

Adapoen di dalem perkara jang telah di temtoeken, maka tambahan hoekoeman boleh di djatoehken sama-sama dengan satoe atawa lebeh dari hoekoeman-hoekoeman jang terseboet di dalem fatsal di moeka itoe, maka jang di kata tambahan hoekoeman itoe ja-itoe seperti di bawah ini :

l e . Di tjaboet dari pada hak (koewasa) dan koewasaän jang temtoe, tetapi misti toeroet prentah jang ketjil-ketjil dari pa-

da lamanja, maka temponja dari lima sampe sepoeloeh taoen.

2e. Rampas barangnja kedjahatan atawa pelanggaran, atawa apa jang kaloewar dari dalem kedjahatan, atawa dari dalem pelanggaran, atawa rampas isarat-isarat dan bekakas jang telah di pake aken memboewat kesalahan, atawa pelanggaran itoe, djikaloe barang itoe poenjaknja orang jang terhoekoem.

FATSAL 7.

Lain dari pada prentah No. 2 dari pada fatsal jang di atas itoe, maka di dalem poetoesan boleh di prentahken, sopaja bekakas atawa lain barang jang telah di boewat, atawa telah di betoelken, atawa telah di pake aken boewat satoe kedjahatan

boleh di ilangken, atawa boleh di bikin roesak, djanganlah boleh di pake lagi kendati pesakitan di lepas, maka di dalem soerat poetoesannja boleh di prentahken djoega bagimana di atas dari perkara barang-barang itoe.

Di sini djoega jang mengadaken hoekoem oendang- oendang menoeroet boekoe hoekoeman Wolanda fatsal 6 dan 7.

Hoekoeman tambahan fatsal 6 no. 1, tiada perloe sekali sebab orang djawa jang ketjil tiada sekali me- moelijaken hak djadi orang isi negri.

F A T S A L 8.

Adapoen orang djawa atawa bangsa sebrang jang besar pangkatnja atawa asalnja, jang termasoek di dalem boenmja

(36)

soerat besluit dari pada Baginda Radja pada hari 3 boe- lan November taoen 1866 no. 73, (Staatsblad India taoen 1867 no 10), djikaloe misti kena hoekoeman kerdja paksa dengan rante, atawa tiada dengan rante, maka hoekoeman itoe boleh di ganti dengan boewang ka soewatoe tempat boe-

wangan.

Djikaloe hoekoeman ini di kenaken mendjadi gantinja ker- dja paksa dengan rante, maka jang djalanken kaädilan hen- daklah seboetken dengan trang di dalem soerat poetoesannja.

Djikaloe orang ketjil kena hoekoeman kerdja pekerdjaan negri dengan dapet makan, tetapi tiada dengan dapet hajaran, maka orang-orang jang terseboet di dalem fatsal ini misti di hoekoem toetoep jang sama lamanja.

Adapoen atoeran ini baik orang jang bangsawan C) tia- da boleh di hoekoem seperti orang barang-barang C

2

). Ba- gitoe djoega Hof besar di Batawi soedah poetoes fat- sal ini misti di toeroeti, djikaloe priaji soedah bren- ti, tiada ada pangkat lagi. Toewan besar Goebernoer Djendral jang sadja berkoewasa pilih tempat boe- wangan. Itoe tempat boewangan memang misti di pilih di dalem negri India. Alinea no. 2 dari fatsal ini seboet, djikaloe hoekoeman boewang mendjadi gantinja kerdja paksa dengan rante, itoe misti di se- boetken di dalem vonnis, sebab siapa dapet hoekoe

-

man kerdja paksa dengan rante djadi orang kedji;

bagitoe djoega orang jang bangsawan, atawa priaji jang besar jang di hoekoem di boewang di tarnpat boewangan, mendjadi gantinja kerdja paksa dengan rante djoega djadi orang kedji.

(*) Orang bangsawan = orang berbangsa = iemand van hooge geboorte.

(2) Orang barang barang = een gewoon mensch.

(37)

PATS AL 9.

Di dalem perkara jan» misti kena hoekoeman kerdja paksa dengan rante menoeroet bagimana hoekoem oendang-oendang, maka djikaloe orang perampoewan, misti di hoekoem kerdja paksa tiada dengan rante.

Djikaloe. kedjadian jang demikian itoe, maka jang djalanken kaädilan hendaklah seboetken dengan trang di dalem soerat po.etoesanja bahwa pekerdjaän paksa tiada dengan rante men- djadi ganti hoekoeman kerdja paksa dengan rante.

Di sini djoega jang mengadaken hoekoem oendang- oendang kassian sama orang perampoewan, dan tiada kassih orang perampoewan dapet pekerdjaän paksa dengan rante, tetapi seperti soedah di seboet di da- lem fatsal 8 orang perampoewan mendjadi orang kedji djoega, djikaloe hoekoeman kerdja paksa tiada de- ngan rante mendjadiken ganti pakerdjaän paksa dengan rante.

Lain dari itoe orang perampoewan jang bangsawan tiada boleh dapet hoekoeman kerdja paksa, tetapi seperti orang laki bangsawan misti di boewang di tempat boewangan.

FATSAL 10.

Adapoen orang jang di hoekoem kerdja paksa tiada dengan rante tiada lebeh dari satoe taoen lamanja, atawa barang siapa jang di hoekoem kerdja pekerdjaän negri dengan dapet ma- kan tiada dengan hajaran, misti djalani hoekoeman-hoekoeman itoe di mana dia di hoekoem.

Ini atoeran baik, sebab pesakitan jang di hoekoem

pekerdjaän paksa tiada dengan rante tiada lebeh dari

satoe taoen lamanja, tiada boleh teritoeng orang ter-

(38)

laloe' djahat. Mendjadi, sebab itoe orang pesakitan ada anak bini di tempat, di mana dia di hoekoem, itoe boekoeman maoe djadi lebeb brat, djikaloe dia di boewang ka-lain negri.

Lain dari itoe djoega baik, sebab begitoe selama- nja di kotta ada orang hoekoeman, boewat kerdja pekerdjaän negri jang ada.

FATSAL 11

Djikaloe ada perkara jang di kenaken hoekoeman toetoep lamanja lebeh dari delapan hari, menoeroet bagimana peratoe- ran besar, maka djikaloe orang djawa dan orang bangsa se- brang maka hoekoemanja itoe miBti di obahken mendjadi ker- dja pekerdjaän negri dengan dapet makan tiada dengan ba- jaran; atawa djikaloe ada perkara jang misti di kenaken hoe- koeman toetoep lamanja lebeh dari tiga boelan, maka djikaloe orang djawa dan bangsa sebrang, maka hoekoeman itoe misti di obahken mendjadi kerdja paksa tiada dengan ranté.

Dari sebabnja hoekoeman toetoep lebeh dari dela- pan hari di obahken mendjadi kerdja pekerdjaän negri, atawa kerdja paksa tiada dengan ranle, itoe sebab di negri panas seperti di sini tiada baik sekali, dji- kaloe orang di toetoep terlaloe lama, tiada boleh na- pas di loewar.

GELARAN JANG KATIGA.

P e r k a r a hoekoeman sendiri-sendirinja.

F ATS AL 12.

Adapoen hoekoeman mati di djalanken oleh algodjo di soe- watoe tempat jang tinggi; dan barang siapa jang kena hoe-

(39)

koeman itoe di taroek tali di lèhèrnja dan tali itoe teriket di gantoengan, dan papan di bawah kakinja lantas di lepas.

Adapoen jang soedah di seboetken di bawah fat- aal 5 no. 1 hoekoeman mati lebeh baik di angkat dan boekoe hoekoeman dan di ganti dengan Jcerdja paksa dengan rante atawa tiada dengan rante; tetapi

lain dari sebabnja itoe ada sebab jang lain ja-itoe, sebab djikaloe priksa boekoe register dari orang pe- sakitan jang soedah dapet hoekoeman mati keliatan tjoema sedikit.

Adapoen djikaloe hoekoeman mati misti di djalan- ken, lebeh baik pesakitan jang dapet hoekoeman itoe djangan di gantong, sebab orang djawa tiada begitoe takoet hoekoeman itoe; lebeh baik hoekoeman mati

di melakoeken seperti di negri Frankrijk, ja-itoe orang jang dapet hoekoeman mati dia poenja kepala di

pantjoeng.

F ATS AL 13.

Adapoen hoekoeman mati itoe tiada boleh di djalanken pada hari Dominggoe, atawa pada hari besarnja orang Christen, atawa pada hari besarnja orang negri.

FATSAL 14.

Maka majitnja orang jang mati di gantoeng boleh di ka- sihken pada sanak soedaranja, djikaloe ada permmtaännja; te- tapi tiada boleh di soeroeh tanem dengan rameh, atawa den- gan kahormatan,

F A T S A L 15.

Adapoen sekalian orang jang terhoekoem kerdja paksa dan jang di hoekoem toetoep misti bekerdja. Maka prentah ini tiada di djalanken atas orang Djawa dan bangsa sebrang jang besar pangkatnja, atawa asalnja jang terseboet di dalem fatsal 8.

(40)

Adapoen pemegangan dan atoerannja tempat-tempat orang- orang Jang terhoekoem kerdja paksa dan di hookoem toetoep, dan lagi perkara djalannja hoekoeman kerdja paksa dan hoe- koeman kerdja pekerdjaän negri, dan hoekoeman toetoep aken di atoer di dalem soerat peratoeran sendiri-sendiri, dengan menimbang brat èntèngnja hoekoeman-hoekoeman itoe.

Orang pesakitan jan g terhoekoem kërdja paksa dan jang di koekoem toetoep misti bekerdja. Maka dji- kaloe timbang menimbang dengan sebetoelnja dan meliat saben kari begimana orang orang hoekoeman bekerdja, atawa tiada bekerdja, soedah trang hoekoe- mam kerdja paksa boleh teritoeng boekan hoekoeman kras; boekan hoekoeman boewat bikm penakoet sama orang orang djahat.

FATSAL 16.

Siapa jang kena hoekoeman salah satoe jang terseboet no.

1 sampe no. 4 dari fatsal 5, itoe tiada boleh di soeroeh prik- sa soewatoe perkara dengan soempah, atawa tiada boleh men- djadi saksi dengan soempah di dalem perkara civiel, djikaloe ada jang minta toelaknja, dan lagi tiada boleh di soeroeh priksa soewatoe perkara dengan soempah, atawa mendjadi saksi dengan soempah di dalem perkara krimineel sebab dari hoekoem, dan lagi tiada boleh djadi saksi ada sama-sama ka- tiga memboewat soerat di hadepan Notaris, atawa di hadepan lain penggawa dan tiada boleh mendjadi wali, atawa curator dan tida boleh masoek militair, atawa schutterij atawa lain- lain barissan.

FATS AL 17.

Siapa jang pikoel hoekoeman kerdja paksa dengan rante tiada boleh pegang barang-barangnja sendiri sebab hoekoem selamanja dia masih pikoel hoekoeman itoe.

Djikaloe ada sebabnja jang perloe dan djikaloe ada permin- taännja orang jang kena hoekoeman itoe, atawa djikaloe ada

(41)

permintaännja lain orang jang mempoenjai oentoeng roegi.

di atas itoe, atawa djikaloe ada permintaännja fiskaal atawa djaksanja, maka pengadilan civiel di negri jang di tempati di blakangkali oleh jang kena hoekoeman itoe hendaklah ber- diriken soewatoe curator, soepaja pegang barang-barangnja se- perti soewatoe orang jang di taroek di bawah soewatoe cu- rator.

Djikaloe orang jang kena hoekoeman itoe memang misti toeroet prentalmja boekoe hoekoem civiel jang bernama Bur- gerlijk Wetboek voor Nederlandsch-Indie da.ri perkara curator, ma- ka weeskamer misti djadiken curator djoega, soepaja liat-liat- ken pekerdjaänja curatornja orang itoe.

F A T S A L 18.

Djikaloe orang jang terhoekoem telah pikoel hoekoemannja, maka curatornja hendaklah brenti memegang barangnja, dan lagi hendaklah membri itoeng-itoengan jang pengabisan den- gan katrangannja.

Adapoen fatsal ini tiada bergoena apa-apa, djikaloe orang bangsa djawa ada dalem hal ini, djadi djikaloe orang djawa di hoekoem kerdja paksa dengan rante;

sebab di dalem perkara itoe dia memang tiada maoe menoeroet, apa jang terseboet di dalem fatsal ini.

Adapoen djikaloe ada jang maoe minta curator aken pegang barang barangnja dari pada orang jang di hoekoem kerdja paksa dengan rante, dia misti menoeroet apa jang terseboet di dalem artikel 225 sampe 229 Inlandsen Reglement.

Maka djikaloe orang sebrang ada di dalem hal ini

misti menoeroet fatsal 1 dari peratoeran besar dari 8

December 1855, Staatsblad no. 79, mendjadi misti

menoeroet galaran jang 17 dari Burgerlijk Wetboek,

(42)

FATSAL 19.

Siapa jang di hoekoem kerdja paksa dengan rante, selama- nja misti pikoel hoekoemanja, tiada boleh di kasieh wang, ata- wa makanan dari ongkosnja sendiri, tetapi orang jang bangsa besar, atawa jang besar pangkatnja bagimana terseboet di da- lem fatsal 15 itoe tiada termasoek di dalem larangan ini.

Adapoen peratoeran besar jang di seboet di dalem fatsal 15 sampe sekarang belom di bikm; tetapi di dalem Staatsblad 1871 no. 78 ada peratoeran doeloe.

F A T S A L 20.

Prentahnja fatsal 16, 17 dan 18 di djalanken djoega atas orang Djawa dan sebrang jang bangsa besar jang di hoekoem boewang ka-soewatoe tempat boewangan ganti hoekoem ker.

dja paksa dengan rante bagimana fatsal 8.

Prentah-prentah itoe dan lagi prentahnja fatsal 19 di dja- lanken djoega atas orang perampoewan jang terhoekoem ker- dja paksa tiada dengan rante gantinja kerdja paksa dengan ranté bagimana fatsal 9.

Soenggoepoen orang jang bangsa besar tiada boleb dapet hoekoemau kerdja paksa, tetapi akan ganti itoe hoekoeman misti di boewang ka soewatoe tempat, jang maoe di tamtoeken pada Toewan Besar Goebernoer Djendral. Maka peratoeran jang terseboet di dalem fatsal 16, 17, dan 18 lakoe djoega.

F A T S A L 2 1 .

Siapa jang terhoekoem boewang ka soewatoe tempat boe- wangan misti terbawak ka soewatoe tempat di dalem India- Nederland jang di temtoeken oleh Sri Padoeka jang di per- toewan besar G-oebernoer Djendral.

(43)

Soedah seboet di dalem fatsal 8 dan 20.

F A T S A L 22.

Adapoen hak (koewasa) dan kakoewasaän, jang di tjaboet oleh pengadilan dengan poetoesan menoeroet bagimana fatsal 6 no. 1 di dalem perkara-perkara jang terseboet di dalem boekoe oendang-oendang ini dan di dalem lain-lain peratoeran prentah, ja-itoe seperti di bawah i n i :

a. Pegang segala pangkat atawa pekerdjaän negri.

b. Mendjadi wali atawa curator dari orang jang boekan sa- nak soedaranja.

c. Mendjadi wali atawa curator dari anaknja sendiri.

d. Mendjadi saksi dengan soempah di dalem perkara civiel, kaloek di tolak.

e. Hak (koewasa) berpilih.

Djikaloe tiada di prentahken lain roepa, maka pengadilan ampoenja soeka memoetoesken tjaboet atawa tiada tjaboet dari pada hak dan kakoewasaän itoe atawa dari pada salah satoenja.

Hoekoeman ini moelai dari pada hari jang poetoesannja telah tetep, dan tiada boleh di bikin pandjang lagi.

Kendati peratoeran ini sring-sring orang dessa jang soedah dapet hoekoeman kerdja paksa, dan jang poe- nja hoekoeman soedah habis, mendjadi loerah, atawa mendapet lain pakerdjaän dessa. Maka ini kanjataän orang djawa ketjil tiada mengendahken peratoeran fatsal ini.

E ATS AL 23.

Permintaännja denda dan ongkos perkara tinggal tetep bagimana peratoeran-peratoeran hoekoem jang di djalanken atas orang jang terhoekoem itoe.

Djikaloe orang di hoekoem denda atawa di hoekoem ram- pas barangnja dengan sama sekali di hoekoem kombaliken barang atawa ganti karoegian, maka hoekoeman kombaliken

2

(44)

barang dan ganti karoegian itoe misti di djalanken lebih doe- loe, djikaloe orang jang di hoekoem itoe tiada sampe barang.

FATSAL 24.

Djikaloe orang kena hoekoeman perkara kedjabatan atawa crimineel, maka kepala negri hendaklah kabarken poetoesan- nja di tempat roemahnja orang itoe di blakangkali.

Adapoen sri Padoeka jang di pertoewan besar Goebernoer Djendral, jang tamtoeken bagimana djalanja kabarken poe- toesan itoe.

Di dalem Staatsblad 1872 no. 193 soedah ada pe- ratoeran bagimana djalannja kabarken poetoessan itoe.

GELARAN JANG KA-AMPAT.

IPerkara memboewat kedjakatan lebih dari satoe kali.

F A T S A L 25.

Djikaloe orang doeloenja telah di hoekoem mati, atawa telah kena hoekoeman kerdja paksa dengan rante atawa tiada dengan rante, lamanja lebeh dari satoe taoen, dan djikaloe di blakang dia memboewat kedjabatan lagi dan di bawa di hadepan pengadilan, maka hoekoemanja jang doeloe men- djadiken brat perkaranja, dan pengadilan misti timbang itoe djikaloe djatohken hoekoeman.

Di dalem perkara itoe maka pengadilan ada koewasa tam- bah hoekoeman kerdja paksa dengan satoe bagian dari tiga lebeh dari hoekoemanja jang paling tinggi.

FATSAL 26.

Prentah-prentahnja fatsal 25 itoe di djalanken djoega dji-

(45)

kaloe pesakitan doeloe telah di hoekoem oleh pengadilan militair, bagimana di bawah ini :

l e . Djikaloe dia kena hoekoeman salah satoe jang terse- boet di dalem fatsal 25 bagian jang pertama, jang telah di tcmtoeken di dalem kaädilan hoekoeman jang biasa, sebab memboewat soewatoe perkara jang di seboetken kedjahatan di dalem kaädilan hoekoeman itoe.

2e. Djikaloe dia kena soewatoe hoekoeman jang di pren- tahken di dalem hoekoeman militair, sebab memboewat soe- watoe perkara jang hoekoemannja mati, atawa kerdja paksa dengan rante, bagimana kaädilan hoekoeman jang biasa.

3e. Djikaloe dia kena hoekoeman kreta-soeroeng atawa mi- litair arrest, atawa toetoep lamanja lebih dari satoe taoen, bagimana terseboet di dalem hoekoeman militair, sebab mem- boewat satoe perkara jang hoekoemannja kerdja paksa tiada dengen rante lama-lamanja lima taoen, bagimana kaädilan hoe- koeman jang biasa.

Mendiadi orang jang leben doeloe soedah dapet hoekoeman lamanja lebeh dari satoe taoen kerdja pak- sa, djikaloe memboewat soewatoe kedjahatan lagi, boleh di hoekoem kerdja paksa dengan tambah satoe bagian dari tiga lebeh dari hoekoemannja jang paling tiugi; te- tapi itoe kedjahatan pesakitan misti memboewat sesoe- dahnja dia di hoekoem dari kedjahatan jang dia memboe- wat lebeh doeloe. Tiada sampe dia di hoekoem pa- da Raad Sambang atawa Landraad, tetapi misti djadi kapoetoesan hoekoem (in kracht van gewijsde).

Peratoeran di dalem fatsal 26 tiada bergoena, dji-

kaloe pesakitan jang doeloe djadi militair doeloe soe-

dah dapet hoekoeman dari kedjahatan militair sadja.

(46)

GELARAN JANG KA-LIMA.

P e r k a r a sekoetoe atawa tj arapoer di dalera perkara.

F A T S A L 27.

Siapa jang sekoetoe atawa tjampoer di dalem perkara ke- djahatan atawa pelanggaran, itoe kena hoekoeman sama djoe- ga seperti orang jang memboewat perkara itoe, tetapi ada djoega perkara jang hoekoemannja memang soedah di temtoe- ken tiada sama.

Prentah ini dan lain-lain prentahnja gelaran ini tiada di djalanken atas perkara pelanggaran dari pada peratoeran po- litie besar dan dari pada peratoeran politie ketjil.

F A T S A L 28.

Jang di hoekoem seperti sekoetoe di dalem perkara kedja- hatan atawa pelanggaran, ja-itoe bagimana di bawah i n i :

l e . Siapa jang soeroeh memboewat kedjahatan atawa pe- langgaran dengan membri apa-apa atawa antjam-antjam atawa dengan pake koewasanja, atawa dengan pake akal, atawa ti- poe daja, dan lagi siapa jang membri ketrangan soepaja mem- boewat kedjahatan atawa pelanggaran.

2e. Siapa jang mengasih barang tadjem, atawa sendjata atawa bekakas atawa lain-lain barang dengan soedah taoe bahwa sendjata atawa lain-lainnja itoe misti di pake aken memboewat kesalahan, atawa pelanggaran.

3e. Siapa jang Bengadja toeloeng sediaken atawa toeloeng bikin gampang atawa toeloeng habisken kapada orang jang memboewat kedjahatan atawa pelanggaran, ja-itoe lain dari pada hoekoeman atas orang jang adjak-adjak orang banjak atawa toesoek-toesoek orang banjak membikin roesoeh di India- Nederland, kendati tiada kedjadian kedjahatan itoe jang di niatken oleh itoe orang jang adjak-adjak memboewat roesoeh, atawa jang toesoek-toesoek soepaja memboewat roesoeh.

4e. Siapa jang toesoek-toesoek orang banjak, soepaja mem-

(47)

boewat kedjahatan atawa pelanggaran, dengan bitjara di ha.

depan orang banjak, atawa dengan toelisan jang tiada di tjap jang tèmpèlken di tempat jang boleh di liat orang banjak,

atawa jang di djoewal atawa jang di tesiarken.

Prentah ini jang pengabisan di djalanken djoega djikaloe orang banjak itoe jang di toesoek-toesoek tjoema mentjoba boewat kedjahatan atawa pelanggaran, dan djikaloe pentjoba- ännja itoe boleh di hoekoem. Dan lagi djikaloe orang banjak itoe jang di toesoek-toesoek tiada memboewat satoe apa, maka orang jang toesoek-toesoek itoe di hoekoem denda dari lima poeloeh sampe seratoes roepiak, atawa djikaloe ada sebab jang bikin brat perkaranja, maka di hoekoem kerdja paksa tiada den- gan rante dari anem hari sampe anem boelan.

F A T S A L 29.

Siapa jang taoe ada orang jang kelakoeannja djahat, jang membadjak, atawa merampas, atawa memboewat aniajakapada orang atawa melik (poenjaknja), atawa memboewat roesoeh di India-Nederland, maka djikaloe dia senantiasa (sahari-hari) kassi mondok atawa tempat semboenian, atawa tempat koem- poelan kapada orang jang demikian kelakoeannja itoe, aken di kenaken hoekoeman, seperti, sekoetoenja (tjampoer di dalem itoe perkara).

FATSAL 30.

Siapa jang sengadja semboeniken barang tjoerian kendati semoea atawa sebagian, atawa semboeniken barang jang tiada di sampeken kapada mistinja, atawa semboeniken barang jang terdapet dengan kedjahatan, atawa dengan pelanggaran, ma- ka dia kena hoekoeman djoega seperti sekoetoenja.

F ATS AL 3 1 .

Adapoen hoekoeman mati dan hoekoeman kerdja paksa den- gan rante dari 5 sampe 20 taoen itoe tiada di djalanken atas orang, jang semboeniken barang, jang terseboet di dalem fat- sal 30 itoe, melainken djikaloe ada katrangan waktoe dia sem-

(48)

boeniken barang itoe dia soedah taoe doedoeknja perakara, jang misti kena doewa hoekoeman itoe.

Djikaloe tiada ada katrangan ini, maka dia di hoekoem kerdja paksa dengan rante dari lima sampe lima bias taoon.

FATSA.L 32.

Siapa pegang pesanggrahan dan jang pegang roemah makan, kan djikaloe kasi mondok orang lebeh lama dari doewa poe- loeh ampat djam, dan waktoenja misti mondok orang itoe memboewat kedjahatan atawa pelanggaran, maka djikaloe jang pegang pesanggrahan atawa roemah-makan itoe tiada toelis namanja dan pekerdjaännja dan tempat roemahnja itoe orang jang memboewat kesalahan di dalem boekoe jang di trima dari pada orang besar, maka jang pegang pesang- grahan atawa roemah makan misti tanggoeng di dalem per- kara civiel, djikaloe orang jang; kena keroegian dari sebab ke- djahatan atawa pelanggaran itoe minta kombali barang atawa minta ganti keroegian dengan ongkos-ongkos; dan lain dari pada itoe dia misti tanggoeng djoega lain-lain perkara sebab dia djadi djoeroe-simpen atawa sebab lain-lainnja, ja-itoe me"

noeroet bagimana atoeran kaädilan civiel jang boleh di dja- lanken atasnja.

Siapa jang di namaken orang jang memboewat ke- djahatan atawa pelanggaran {dader), siapa jang sa- koetoe [mededader), siapa jang tjampoer di dalem kesalahan [medeplichtige)? Boekoe kaädilan hoekoe- man tiada seboet sekali-kali. Siapa jang di .bilang memboewat soewatoe kesalahan itoe sampe trang; dja- di tiada perloe di trangken lagi. Siapa jang masoek di dalem lain orang poenja roemah dan mentjoeri itoe orang poenja barang, ja-itoe jang di namaken jang memboewat kedjahatan [dader). Orang sakoetoe [me- dedader) ja-itoe jang bersama-sama lain orang djahat memboewat kedjahatan, atawa pelanggaran.

Adapoen aken mengadaken kesalahan itoe tiada

(49)

perloe, aken orang djahat memboewat sendiri soewa- toe kedjahatan; tetapi djoega teritoeng orang sakoetoe, jan- soeroeh sadja memboewat soewatoe kedjahatan, atawa jang djaga di loewar roemab, waktoe dia poe- nja temen (dader) memboewat kedjahatan.

Adapoen lain dari pada itoe, siapa jang kasib sendjata, atawa bekakas, aken memboewat soewatoe kedjahatan, atawa siapa jang kasi soewap, atawa ber- djandji apa-apa atawa bikin penakoet kapada orang ketjil, segala itoe semoewa boewat membawa hati oran- aken memboewat soewatoe kedjahatan, ja-itoe di dalem boekoe kaädilan hoekoeman di bilang tjam- poer di dalem kesalahan; bagitoe djoega di namaken tjampoer di dalem kesalahan, siapa jang semboeniken atawa men dj oew alken barang-barang asalnja dan ke- djahatan dengan sengadja bertaoe itoe barang-barang kaloewar dari perboewatan djahat.

Adapoen hoekoeman sama djoega di djatoehken di atas orang jang memboewat soewatoe kesalahan atawa jang djadi sakoetoe, atawa jang tjampoer di dalem kesalahan; tetapi ada djoega perkara, jang hoe- koemancia tiada sama, seperti di seboet di dalem fatsal 31 B. K. H., jang prentah aken hoekoeman mati, dan kerdja paksa dengan rante dan lima sam- pe doeioa poeloeh taoen tiada di djalanken atas orang j a n - semboeniken barang; melainken djikaloe ada

ketran-an, waktoe dia semboeniken barang itoe, dia

taoe doedoeknja perkara, jang misti kena hoekoeman

mati, atawa hoekoeman kerdja paksa dengan rante

dari 5 sampe 20 taoen. Djikaloe tiada ketrangan

itoe, dia misti di hoekoem kerdja paksa dengan rante

dari lima sampe Umablas taoen.

(50)

Bagitoe djoega fatsal 141 B. K. H. menentoeken, aken, djikaloe priaji-priaji jang toeroet tjampoer di dalem kedjahatan atawa pelanggaran jang dia mi.sti djaga, atawa jang dia misti tjegah, maka dia tiada di hoekoem seperti orang, jang memboewat itoe ke- djahatan, atawa pelanggaran; tetapi dia di hoekoem dengan hoekoeman jang lebeh brat.

Bagitoe djoega fatsal 64, B. K. H. membilang siapa jang toeroet di dalem perkoempoelan orang jang bi- kin roesoeh {oproer), tetapi tiada pegang pekerdjaän apa- apa, atawa tiada pegang prentah apa-apa di dalem per- koempoelan itoe, dan djikaloe dia di prentahken oleh pamrentahan mardika, atawa militair, maka dia lantas kaloewar dari perkoempoelan itoe, dia tiada di hoekoem.

Bagitoe djoega pentjoerian pada sanak soedara tiada di hoekoem (fatsal 298 B. K. H.); tetapi lain orang jang tjampoer di dalem pentjoerian itoe di hoekoem.

GELARAN JANG KA-ANEM

Perkara jang tiada boleh di salahken, dan jang mele- pasken dan jang entengken kesalahan.

FATSAL 33.

Djikaloe pesakitan gila atawa di paksa oleh jang lebeh k wat dari dia, koefcika dia memboewat soewatoe perkara, itoe boekan kedjahatan, dan boekan pelanggaran.

oe- maka

Sa'orang poen tida boleh di salahken dari perboe-

watan djahat, atawa dari pelanggaran, djikaloe wak-

toe dia memboewat itoe perkara, dia teritoeng dia

tiada sekali bertaoe perboewatan itoe djahat.

(51)

Boekoe kaädilan hoekoeman tiada sekali seboetken, kapan perkara boleh di salahken; tetapi tjoema ber- kata di dalem Gelaran ka-anem B. K. H. dari per- kara jang tiada boleh di salahken.

Adapoen orang jang soedah sampe besar, jang oe- moernja 16 taoen atawa lebeh, dan jang baik akal boedi, teritoeng menanggoeng dari dia poenja perboewatan;

djadi boleh di hoekoem, djikaloe dia memboewat soewatoe kedjahatan atawa pelanggaran.

Bagitoe siapa jang memboewat kedjahatan atawa pelanggaran, waktoe dia misti gila (djadi dia tiada boleh inget perboewatannja), atawa di paksa pada koewasa jang terlebeh besar dari dia, djadi dia misti tiwas (

1

) maka dia tiada boleh di hoekoem, dan misti di lepasken, sebab itoe perboewatan tiada teritoeng perkara kedjahatarj, atawa pelanggaran, seperti di se- boetken di dalem fatsal 245, 246 dan 247, B. K. H.;

tetapi paksanja misti bagitoe besar djadi orang jang memboewat kedjahatan, atawa pelanggaran tida sekali boleh melawan.

FATSAL 34.

Maka tiada ada kedjahatan atawa pelanggaran boleh di le- pasken, atawa hoekoemannja boleh di koerangi, djikaloe tiada di dalem perkara dan nalar jang itoe di kataken boleh di lepasken atawa jang hoekoemannja boleh di koerangi krasnja.

Bagitoe kedjahatan atawa pelanggaran tiada boleh di ampoeni, atawa hoekoemannja tiada boleh di koe- rangi, djikaloe di dalem boekoe kaädilan hoekoeman

(') Tiwas = voor de overmacht bukken.

(52)

tiada di katak en boleh, di ampoeni, atawa hoekoe- mannja boleh di koerangi krasnja.

Perkara jang boleh di ampoeni ada banjak di da- lem boekoe kaädilan hoekoeman.

Bagitoe teritoeng di dalem perkara jang boleh di ampoeni : orang jang toeroet di dalem perkoempoelan orang jang bikin roesoeh, maka lantas kaloewar dari perkoempoelan itoe dengan kemaoewannja sendiri (fatsal 64); atawa jang kasih katrangan dari doedoeknja per- kara perkoempoelan itoe kapada jang koewasa (fatsal 69). Dan lagi boleh di ampoeni perkara poekoel mati, dan bikin loeka, dan poekoel, djikaloe ada se- babnja orang di poekoel, atawa di aniaja kras lebeh doeloe dan waktoe itoe djoega {provocatie fatsal 239.) Djoega di ampoeni, djikaloe laki poekoel mati bini- nja, atawa bini poekoel mati lakiuja, waktoe, jang poekoel mati itoe pajah diriüja sendiri, waktoe dia memboewat kedjahatan itoe, atawa djikaloe laki poe- koel mati bininja, atawa soekaänja, waktoe dia dapet taoe dia orang soekaän (fatsal 242).

Bagitoe djoega boleh di ampoeni kedjahatan kebiri orang laki-laki, djikaloe dalem waktoe itoe dia soekai soewatoe perampoewan dengan paksa lebeh doeloe (fatsal 243.)

Ï A T S A L 35.

Djikaloe oemoernja pesakitan koerang dari anemblas taoen dan djikaloe di poetoesken bahwa dia tiada taoe djahat baik- nja perkara jang di boewat itoe maka dia aken di lepas, te- tapi menoeroet bagimana doedoeknja perkara, dia di komba- liken kapada orang toewanja, atawa kapada sanak-soedaranja, atawa di taroek di dalem pendjaranja orang moeda, soepaja di piara di sitoe bebrapa taoen lamanja jang di tamtoeken

(53)

di dalem soerat poetoesan; tetapi sekali-kali djangan lebeh lama dari sampe oemoernja doewa poeloeh taoen.

FATSAL 36.

Djikaloe di poetoesken bahwa dia taoe djahat baikuja per- kara jang di boewat, maka hoekoemannja bagimana di bawah ini.

Djikaloe hoekoemannja jang sekalian bagimana jang terse- boet di fatsal 5 no. 1 dan 2, maka dia di hoekoem kerdja paksa tiada dengan rante dari sepoeloeh sampe doeioa poeloeh taoen;

kaloe hoekoemannja jang sekalian bagimana jang terseboet di dalem fatsal 5 no. 3 dan 4, maka dia di hoekoem kerdja paksa tiada dengan rante, dan temponja sedikit-dikitnja satoe bagian dari tiga dan banjak-banjaknja separo dari pada tempo jang dia boleh di kenaken hoekoeman-hoekoeman ini, salah satoe sa-oepama ada di dalem lain-lain perkara ;

kaloe hoekoeman jang sekalian kerdja paksa tiada dengan rante, atawa denda, maka pengadilan boleh koerangi hoekoeman-hoe- koeman ini bagimana di rasa baik ; tetapi misti koerang dari separonja hoekoeman jang di kenaken kapadanja, djikaloe dia anemblas taoen oemoernja.

Perkara kedjahatan tiada boleh di hoekoem, djika- loe di boewat oleh anak, jang oemoeraja koerang dari anemblas taoen, dan jang tiada boleh mengerti sekali-kali dia poenja perboewatan ada djahat, dan jang tiada taoe baik djahatnja perkara jang dia mem- boewat. Itoe anak misti di lepasken, dan dia, atawa di kombaliken kapada orang toewanja, atawa kapada sanak soedaranja, atawa di taroek di dalem pendjara- nja orang moeda, tetapi tiada lebeh lama dari sampe oemoernja doewa poeloeh taoen.

Aken prentah ini tiada bergoena sekali dan tiada boleh menoeroet sekali, sebab di India-Nederland tiada ada pendjara O itoe.

(') Pendjara = verbeterhuis.

Afbeelding

Updating...

Referenties

Gerelateerde onderwerpen :